OLEH : RIKA RAHAYU
Angin mendesau berbisik.
Menyindir para ombak yang berlarian mematuk.
Menyerbu kami
yang datang di rumah para nelayan tua ini.
Kami,
kami hari ini di sini,
mengusap ombak-ombak kecil
yang berhasil memberi basahan di ujung jari kami.
Menyentuh garis-garis air di pelukan perahu lapuk yang kami pijak.
Garis-garis air
yang memberi kami tawa kecil,
yang sesungguhnya berperasaan gaduh.
Wahai ombak...
Kami di sini mengaku saudara.
Kami di sini mengaku kokoh.
Kami di sini berpaku dalam kasih dan sayang.
Tapi,
Kami di sini terawasi waktu,
Waktu yang selalu ingin merebut kebersamaan abadi kami.
Tumpangan karpetmu begitu empuk di hati
untuk sejenak kami tempati bertamu.
Esok kami harus saling menciumi kening satu dengan yang lain.
Kami harus berpeluk erat
sebelum waktu benar-benar mengutuk pisah di antara kami.
Esok kami harus pergi lagi
Pergi untuk sebuah cita-cita
Cita-cita yang masih terkubur dalam
di perut perairan luas sana.
Terimalah teriakan lepas kami di permukaanmu ini,
sebagai ucapan Terimakasih atas Narasi Persaudaraan Kami.
R.R
02.08.14
Kamis, 07 Agustus 2014
Selasa, 05 Agustus 2014
PERKENANGKAN AKU (Menjadi Seorang Pelupa)
OLEH : RIKA RAHAYU
Dalam suatu petaka
kamu adalah rasa takut yang paling kupuja.
Tiada tawa yang lahir prematur,
dalam kisah yang kumulai indah ini.
Dan,
Semua rasa yang kucipta itu,
kini bisa kuhembuskan dengan damai.
Mungkin hatiku,
tempat bersandar yang terlupa.
semoga kamu tahu.
meski telah mati,
masa lalu itu akan tetap nyata.
jika berkenang kau buka telinga,
ada kata yang ingin kusampaikan.
Bahwa
daripada kata perpisahan itu
yang lebih menyakitkan adalah kenyataan,
bahwa aku tak pernah diperjuangkan.
Sempat tak lagi kulihat bintang di angkasa
karena semenjak kamu tak ada,
aku buta.
sempat tak kudengar lagi gemercik air berbunyi,
saat suaramu tak ada lagi memanjakanku.
tanpa kamu,
pelangi hanyalah lengkungan hitam-putih.
Hari ini aku sadar,
tak ada lagi hari kemarin itu.
saat ini aku hanya percaya
tak akan mampu seorang aku
melihat dan memeluk laju angin.
ini aku,
dengan semua pesan yang tertahan
saat kau putuskan menghapusku.
jika seorang kamu
telah menjadi sebuah masa lalu, maka
perkenangkan aku menjadi
seorang pelupa
Dalam suatu petaka
kamu adalah rasa takut yang paling kupuja.
Tiada tawa yang lahir prematur,
dalam kisah yang kumulai indah ini.
Dan,
Semua rasa yang kucipta itu,
kini bisa kuhembuskan dengan damai.
Mungkin hatiku,
tempat bersandar yang terlupa.
semoga kamu tahu.
meski telah mati,
masa lalu itu akan tetap nyata.
jika berkenang kau buka telinga,
ada kata yang ingin kusampaikan.
Bahwa
daripada kata perpisahan itu
yang lebih menyakitkan adalah kenyataan,
bahwa aku tak pernah diperjuangkan.
Sempat tak lagi kulihat bintang di angkasa
karena semenjak kamu tak ada,
aku buta.
sempat tak kudengar lagi gemercik air berbunyi,
saat suaramu tak ada lagi memanjakanku.
tanpa kamu,
pelangi hanyalah lengkungan hitam-putih.
Hari ini aku sadar,
tak ada lagi hari kemarin itu.
saat ini aku hanya percaya
tak akan mampu seorang aku
melihat dan memeluk laju angin.
ini aku,
dengan semua pesan yang tertahan
saat kau putuskan menghapusku.
jika seorang kamu
telah menjadi sebuah masa lalu, maka
perkenangkan aku menjadi
seorang pelupa
R.R
05.08.14
Langganan:
Postingan (Atom)

