Kamis, 19 Juni 2014
SOULMATE
OLEH : RIKA RAHAYU
Saya tidak percaya konsep soulmate.
Bagi saya, soulmate adalah sesuatu yang abstrak.
Konsep rekaan manusia untuk melariskan dagangan bunga, cokelat, kartu Valentine, fiksi romantis dan apa pun yang menghasilkan duit.
Soulmate, menurut saya, adalah konsep yang konyol, kalau tidak kejam.
Manusia dikotak-kotakkan dan dicemplungkan dalam wadah kedap udara.
Kamu baru lengkap kalau sudah menemukan soulmate-mu.
Bagaimana jika belum? Selamat, kamu akan menghabiskan sisa hidupmu mencari soulmate. Puteri bersepatu kaca atau pangeran berkuda putih, yang akui sajalah, makin sulit ditemukan di rimba bagunan kota saat ini.
Soulmate, baru-baru ini aku pernah mempercayainya.
Tapi tidak hari ini, soulmate hanya membuatku menciptakan mimpi, yang sebenarnya kutahu tidak mungkin.
soulmate hanya mengenalkanku janji ikatan, yang sebenarnya kutahu bahwa itu omong kosong.
soulmate hanya mengajariku cara terbang tanpa sayap, yang kemudian akan menghempaskanku ke tanah dan menyisahkan memar raksasa.
soulmate hanya membuatku malu, curhat hal yang tak penting kepada Tuhan, yang sebenarnya lebih pantas kugunakan untuk curhat tentang parfum terbaruku, team football andalangku atau tentang kucing kesayanganku (saya rasa itu sedikit lebih pantas untuk kucurhatkan dengan Tuhan).
soulmate, soulmate, aaalaaaah...
itu hanya imajinasi yang diciptakan oleh anak-anak ABG yang tak berminat dengan pelajaran sekolah.
aku sudah tak mempercayainya hari ini.
KERAMIK ILUSI
OLEH : RIKA RAHAYU
Pada keramik tanpa nama itu kulihat kembali wajah dan senyuman nakalmu,
yang sering kau sajikan padaku saat itu.
Pada keramik tanpa nama itu kulihat kembali wajah dan senyuman nakalmu,
yang sering kau sajikan padaku saat itu.
Saat tangan kita menyatu,
tatapanmu mengendap betah pada wajahku yang tersipu.
Matamu terlihat belum tolol,
untuk sesuatu yang masih tersimpan dalam memoryku.
Apa yang berharga pada jelmaan tanah liat ini,
selain sepotong ilusi?
Sesuatu yang pasti,
pasti akan retak.
Dan kita seakan berpura-pura membuatnya abadi.
Matamu terlihat belum tolol,
untuk sesuatu yang masih tersimpan dalam memoryku.
Apa yang berharga pada jelmaan tanah liat ini,
selain sepotong ilusi?
Sesuatu yang pasti,
pasti akan retak.
Dan kita seakan berpura-pura membuatnya abadi.
KISAH YANG TAK USAI
OLEH : RIKA RAHAYU
Inikah akhir lupa yang dikirim angin,
untuk seorang putri pemimpi sepertiku?
Inikah celah nadi itu,
yang sempat dirantau darah kentalku kemarin?
Tidak.
Ini lebih mirip dengan kibasan basah,
yang setiap saat menjanjikanku mimpi mimpi kosong.
Meraung-raung pada sobekan daun.
Menagkap cahaya dengan kedua tangan.
Apapun itu, ingin aku saksikan.
Betapa dia akan memabukkanku dalam hari.
Sebagai sukma yang kosong,
kumasukkan rasa yang tak pernah kutemukan itu.
Aku terlalu bodoh,
berteman hidrasi, kumencari jiwa itu di lain dimensi sana.
Yang ternyata hanya tepat di depan mata.
Dan...
Dia pergi saat diamku mulai mencamuknya.
Dia pergi bersama maafku yang patah.
Dia pergi bersama kisahku yang tak pernah usai itu.
Inikah akhir lupa yang dikirim angin,
untuk seorang putri pemimpi sepertiku?
Inikah celah nadi itu,
yang sempat dirantau darah kentalku kemarin?
Tidak.
Ini lebih mirip dengan kibasan basah,
yang setiap saat menjanjikanku mimpi mimpi kosong.
Meraung-raung pada sobekan daun.
Menagkap cahaya dengan kedua tangan.
Apapun itu, ingin aku saksikan.
Betapa dia akan memabukkanku dalam hari.
Sebagai sukma yang kosong,
kumasukkan rasa yang tak pernah kutemukan itu.
Aku terlalu bodoh,
berteman hidrasi, kumencari jiwa itu di lain dimensi sana.
Yang ternyata hanya tepat di depan mata.
Dan...
Dia pergi saat diamku mulai mencamuknya.
Dia pergi bersama maafku yang patah.
Dia pergi bersama kisahku yang tak pernah usai itu.
WANITA YANG KUSINGGAHI RAHIMNYA
OLEH : RIKA RAHAYU
Debat kusir.
Kira-kira itu yang akan terjadi jika saya dan kembaran saya yang lahir 19 tahun sebelum saya itu berbicara tentang panti jompo. Kembaran saya alias bunda alias ibu alias mama itu seringkali berpesan: "Kak, kalau mama tua nanti, mama mau masuk panti jompo sama papa juga ya..."
Saat itu saya bergetar bukan kepalang. "Apaa..??? Kenapa panti jompo?"
Kata "Panti Jompo" begitu lekat dengan orang tua ( yang seakan-akan ) telantar.
Anaknya malas mengurus ibu bapak, jadi dititipkan di panti jompo.
Saya juga tidak akan sampai hati melihat wanita yang saya hinggapi rahimnya selama 9 bulan dan lelaki yang memeras keringatnya agar saya mendapat kehidupan layak, hanya teronggok di panti jompo.
Akan tetapi suatu malam menjelang tidur, wanita yang melahirkan saya ke dunia itu berbagi pikiran yang mengusiknya.
"Kak, rumah itu idealnya terdiri dari keluarga inti. Ada bapak, ibu, dan anak. Jadi kalo anak-anak sudah menikah nanti, terus mama sama papa tua, kita mau masuk panti jompo aja"
Melihat saya mengerutkan dahi, mama segera menambahkan,
"Kebanyakan orang berpikir terlalu sibuk untuk membalas jasa orang tua. Mereka lupa, jika orang tua itu begitu bahagia menerima karunia yang disebut anak. Jadi apa yang kami lakukan itu tidak terhitung sebagai jasa, tapi preview surga"
Mama berhasil membuat saya berkaca-kaca saat itu. Lalu dia berkata lagi "Karena adat kita seakan mengasuh orangtua di dalam rumah itu kewajiban anak, padahal kami beraktualisasi sebagai manusia, yaitu bayi, balita, kanak2, remaja, dewasa, tua, lalu mati. Dan setiap fase, kami ingin semua memiliki arti."
"Mama liat umi ( sebutan untuk nenek saya ) dan teman-temannya yang sudah pikun. Matanya jadi kosong, karena masing-masing kegiatannya terhambat karena melakukan hal yang itu-itu saja dirumah. Kalo di panti jompo kan banyak teman. Ada banyak orang tua yang se-frekuensi, berarti kita kan bisa terus bersosialisasi."
Saya sempat mengajukan penawaran, beliau dan papa bisa tinggal di rumah, dan pasti anak-anaknya akan rajin berkunjung. Apa jawabannya?
"setiap orang hidup, apalagi yang waras pasti punya kegiatan. Anggap kalian weekend pasti kerumah, lah hari kan ada 7. Yang 5 hari kita ngapain? Pasangan udah renta, kelamaan berdua doang juga korslet kali kak kalo gak ada kegiatan.
Kira-kira itu yang akan terjadi jika saya dan kembaran saya yang lahir 19 tahun sebelum saya itu berbicara tentang panti jompo. Kembaran saya alias bunda alias ibu alias mama itu seringkali berpesan: "Kak, kalau mama tua nanti, mama mau masuk panti jompo sama papa juga ya..."
Saat itu saya bergetar bukan kepalang. "Apaa..??? Kenapa panti jompo?"
Kata "Panti Jompo" begitu lekat dengan orang tua ( yang seakan-akan ) telantar.
Anaknya malas mengurus ibu bapak, jadi dititipkan di panti jompo.
Saya juga tidak akan sampai hati melihat wanita yang saya hinggapi rahimnya selama 9 bulan dan lelaki yang memeras keringatnya agar saya mendapat kehidupan layak, hanya teronggok di panti jompo.
Akan tetapi suatu malam menjelang tidur, wanita yang melahirkan saya ke dunia itu berbagi pikiran yang mengusiknya.
"Kak, rumah itu idealnya terdiri dari keluarga inti. Ada bapak, ibu, dan anak. Jadi kalo anak-anak sudah menikah nanti, terus mama sama papa tua, kita mau masuk panti jompo aja"
Melihat saya mengerutkan dahi, mama segera menambahkan,
"Kebanyakan orang berpikir terlalu sibuk untuk membalas jasa orang tua. Mereka lupa, jika orang tua itu begitu bahagia menerima karunia yang disebut anak. Jadi apa yang kami lakukan itu tidak terhitung sebagai jasa, tapi preview surga"
Mama berhasil membuat saya berkaca-kaca saat itu. Lalu dia berkata lagi "Karena adat kita seakan mengasuh orangtua di dalam rumah itu kewajiban anak, padahal kami beraktualisasi sebagai manusia, yaitu bayi, balita, kanak2, remaja, dewasa, tua, lalu mati. Dan setiap fase, kami ingin semua memiliki arti."
"Mama liat umi ( sebutan untuk nenek saya ) dan teman-temannya yang sudah pikun. Matanya jadi kosong, karena masing-masing kegiatannya terhambat karena melakukan hal yang itu-itu saja dirumah. Kalo di panti jompo kan banyak teman. Ada banyak orang tua yang se-frekuensi, berarti kita kan bisa terus bersosialisasi."
Saya sempat mengajukan penawaran, beliau dan papa bisa tinggal di rumah, dan pasti anak-anaknya akan rajin berkunjung. Apa jawabannya?
"setiap orang hidup, apalagi yang waras pasti punya kegiatan. Anggap kalian weekend pasti kerumah, lah hari kan ada 7. Yang 5 hari kita ngapain? Pasangan udah renta, kelamaan berdua doang juga korslet kali kak kalo gak ada kegiatan.
Kalo di panti jompo, kita nggak tergantung siapapun. Jadi tiap hari kita
punya kegiatan yang jadinya gak ngerecokin anak-anak. Bisa ikut kelas dansa,
menanam, catur, dan lain-lain. Seru kaann?"
Katanya dengan wajah sumringah dan suara riang.
Mama juga menambahkan "Pokoknya gak usah denger kaya orang. Yang penting kita orang tua tau kalo kalian sayang banget sama kita, dan kalian juga harus tau kalau melihat kalian menjadi manusia utuh juga adalah goal kami sebagai pasangan yang dipercaya untuk memelihara kalian".
Dan kami berpelukan ^_^
Tak lama, buru-buru mama melanjutkan kalimatnya
"tapi kak, kita gak usah pusing-pusing mikirin ini dulu sih. Kan itu saat tua.
Katanya dengan wajah sumringah dan suara riang.
Mama juga menambahkan "Pokoknya gak usah denger kaya orang. Yang penting kita orang tua tau kalo kalian sayang banget sama kita, dan kalian juga harus tau kalau melihat kalian menjadi manusia utuh juga adalah goal kami sebagai pasangan yang dipercaya untuk memelihara kalian".
Dan kami berpelukan ^_^
Tak lama, buru-buru mama melanjutkan kalimatnya
"tapi kak, kita gak usah pusing-pusing mikirin ini dulu sih. Kan itu saat tua.
Hahaha, masih lama yaa.
Kembali kutatap wajahnya.
Masih lama.............
Ya, masih lama. Wanita di hadapanku masih terlalu cantik untuk menuju ke kata "tua". Ukuran celana kami masih sama, jeans masih menjadi pakaian favoritnya. Keriput tidak membuat beliau kehilangan pesona, atau bahkan lipatan-lipatan tidak berani hinggap diwajahnya.
Dia ibuku, wanita yang sangat, sering, dan selalu aku banggakan. Love you mom.....!!!!!
Kembali kutatap wajahnya.
Masih lama.............
Ya, masih lama. Wanita di hadapanku masih terlalu cantik untuk menuju ke kata "tua". Ukuran celana kami masih sama, jeans masih menjadi pakaian favoritnya. Keriput tidak membuat beliau kehilangan pesona, atau bahkan lipatan-lipatan tidak berani hinggap diwajahnya.
Dia ibuku, wanita yang sangat, sering, dan selalu aku banggakan. Love you mom.....!!!!!
Kamis, 12 Juni 2014
MALAMKU YANG HILANG
OLEH : RIKA RAHAYU
Mengira-ngira
namamu dalam gulita perabaan dunia.
Hujanan kalimat
demi kalimat kau curahkan padaku setiap malam.
Rangkaian kata
tentang rindu kau semayamkan dalam setiap ingatanku yang diam.
Ingin,
kuluapkan
jawaban serupa padamu saat itu.
Membalas, dengan
bisikan gegas kata paling indah, yang malaikatpun tak pernah mendengarnya.
Apa yang tumbuh
dalam malam?
Yang hendak
membunuhku pada ingatanku tentang pelukanmu.
Hanya,
Pelukan
kosong yang tiap malam kugumamkan dalam malam-malam tanpamu.
Resah,
kulumpuhkan
kata-kata,
dan kumulai menyurati angin yang berkedip lintas di atas jendelaku.
Tentang, malam yang
hendak kurebut kembali.
Hanya sang mata
rembulan hadir sebagai pengobat bisu.
Kulukis-lukis
senyummu yang penuh rinduku.
Sesekali kau
berkedip tanda ada yang kau ambil ricuh dari hatiku.
Kau katakan
berulang,
Tentang resah,
hari
kemarin yang ingin merampasku.
Kala para pemuja terlelap.
Adalah diri tak
ingin terkikis habis oleh penantian panjang.
Aku mulai
menggigit-gigit mimpiku bersamamu,
Saat malam mulai
merebut dengan paksa,
Memenjarakanku di
sini, yang tak bisa kulihat sedikitpun bayangmu yang sebelumnya dapat kusentuh.
Aku mulai,
mencari-cari malamku yang hilang itu.
Aku mulai, bersujud
dalam satu kecupan permohonanku untuk rindu.
Andai,
sang jarak,
dan prajurit waktu.
Bisa mengerti
keluhku.
Rabu, 11 Juni 2014
KANDA
OLEH : RIKA RAHAYU
Aku
disini saksi,
atas segala kecupan yang sempat bersujud di penjuru lapisan kulit
kita, kanda.
Bagaimana menolak kau hirup,
mereka saja berhala hanya
untuk menatapmu,kanda.
Diam-diam napasmu menggerogoti saraf-saraf,
ruangku
gelap, untuk bernapas pun sulit bagiku saat itu, kanda.
Untuk sekedar menerima bibirmu saja kubuka telinga,
ada kata yang ingin sampai dari sana,
namun tertahan oleh waktu yang beda, kanda.
Langit masih gagah saja,
merebut ingatanku,
ada
kamu pada setiap biliknya, kanda.
Mendengar serbuk yang ternyata melumpuhkan seluruh
sel otakmu,
hingga di seluruh penjuru kepalamu hanya ada satu harapku,
yaitu
seorang aku, kanda.
Aku ingin,
seluruh kata-kataku malam ini menjelma
menjadi wujudmu saja, kanda.
Lipatan lembut katup tatapanmu padaku kuatkan dasar
alasan,
sekali lagi ku ingin memujamu, kanda.
Ini tentang aku yang tak pernah tau warna, wujud
dan angka tubuhmu di sana, kanda.
Kalau boleh kukatakan,
sesungguhnya ada namamu
dalam setiap garis bibirku, kanda.
16.12.13
Selasa, 10 Juni 2014
WAKTU TAK PERNAH MENUNGGUIMU
OLEH: RIKA RAHAYU
Tidak terlalu sendiri, aku bersyukur memiliki teman yang sangat setia menemani sejak dua tahun lalu.
Bahkan saat aku meninggalkan kesadaran, dia tetap ada.
Bayangkan, dimana lagi bisa menemukan teman yang begitu setia di sisimu bahkan saat makeup-mu luntur karena menangis?....*
Mari kuperkenalkan pada kalian, namanya : WAKTU
"Kamu ingin melewatkan malam ini dengan mata terbuka lagi?" dia membuka percakapan.
"Ah, aku cuma ingin bertemu hujan" jawabku sambil menghembuskan udara tuli yang kebetulan lewat di depan bibirku.
"Alasan" jawabnya dengan tawa ketus,
Tidak terlalu sendiri, aku bersyukur memiliki teman yang sangat setia menemani sejak dua tahun lalu.
Bahkan saat aku meninggalkan kesadaran, dia tetap ada.
Bayangkan, dimana lagi bisa menemukan teman yang begitu setia di sisimu bahkan saat makeup-mu luntur karena menangis?....*
Mari kuperkenalkan pada kalian, namanya : WAKTU
"Kamu ingin melewatkan malam ini dengan mata terbuka lagi?" dia membuka percakapan.
"Ah, aku cuma ingin bertemu hujan" jawabku sambil menghembuskan udara tuli yang kebetulan lewat di depan bibirku.
"Alasan" jawabnya dengan tawa ketus,
"kamu hanya ingin menabung
air mata dengan sikap kekasihmu yang tak ingin kau tau, dan kemudian pikiranmu
akan kau paksa untuk bersedih" tambahnya.
"Apaan sih? Dasar ga jelas!" balasku tak kalah ketus sambil melempar pandang pada kaca besar yang menembus langit gelap dan tak punya bayangan bintang.
Samar-samar dari pantulannya aku lihat, kantung mataku hampir menyerupai milik pemimpin negara yang terus tertimpa bencana lalu dihardik rakyat.
"Sudahlah,dia tidak akan merubahnya" katanya lagi mengganggu diamku.
"Aku tahu"
"Lalu?"
"LALUuuuu....??? Daripada kamu banyak bertanya, lebih baik kau bantu aku!" (akhirnya emosiku naik juga.)
"Bantu bagaimana?" tanyanya bingung.
"Gimana sih? kamu kan waktu, harusnya kamu bisa dong bantu aku sejenak melupa. Kamu pikir aku seneng apa kaya gini terus? Menangis setiap malam sambil mendekap pigura, sedangkan orang di dalam foto ini mungkin sedang asik bercinta dengan wanita yang mungkin bukan kekasihnya?!?" >_<
"Apaan sih? Dasar ga jelas!" balasku tak kalah ketus sambil melempar pandang pada kaca besar yang menembus langit gelap dan tak punya bayangan bintang.
Samar-samar dari pantulannya aku lihat, kantung mataku hampir menyerupai milik pemimpin negara yang terus tertimpa bencana lalu dihardik rakyat.
"Sudahlah,dia tidak akan merubahnya" katanya lagi mengganggu diamku.
"Aku tahu"
"Lalu?"
"LALUuuuu....??? Daripada kamu banyak bertanya, lebih baik kau bantu aku!" (akhirnya emosiku naik juga.)
"Bantu bagaimana?" tanyanya bingung.
"Gimana sih? kamu kan waktu, harusnya kamu bisa dong bantu aku sejenak melupa. Kamu pikir aku seneng apa kaya gini terus? Menangis setiap malam sambil mendekap pigura, sedangkan orang di dalam foto ini mungkin sedang asik bercinta dengan wanita yang mungkin bukan kekasihnya?!?" >_<
kutembaki dia dengan
pertanyaan-pertanyaan yang sudah aku kandung selama ini.
Seperti melahirkan prematur rasanya, karena semua seperti tidak cukup.
Tabung di dadaku ini masih terlalu berat untuk diroketkan.
Dia hanya diam, melihatku dengan pandangan kosong, mataku yang dihiasi air mata yang tidak lagi dia indahkan.
Kulihat dia bergerak, dan aku mulai panik.
"Mau kemana?!?"
"Aku harus pergi dong, kamu pikir aku akan di sini selamanya menemanimu basah?
Seperti melahirkan prematur rasanya, karena semua seperti tidak cukup.
Tabung di dadaku ini masih terlalu berat untuk diroketkan.
Dia hanya diam, melihatku dengan pandangan kosong, mataku yang dihiasi air mata yang tidak lagi dia indahkan.
Kulihat dia bergerak, dan aku mulai panik.
"Mau kemana?!?"
"Aku harus pergi dong, kamu pikir aku akan di sini selamanya menemanimu basah?
Bukankah kamu tahu, bahwa aku tidaklah pernah mau menunggu, kamu mau aku disini sampai kapan? sampai
matamu menjadi keriput karena orang yang kau banggakan itu? sampai matamu membengkak karena seorang pria, yang tak pernah memberimu sebuah perhatian, dan sibuk dengan kisahnya bersama wanita yang tidak kamu tau, itu maumu....!!!!???"
Dalam diam panjangku....
Ku biarkan WAKTU itu pergi dan berlalu..
Dalam diam panjangku....
Ku biarkan WAKTU itu pergi dan berlalu..
Sabtu, 07 Juni 2014
SURAT CINTA UNTUK TUHAN
OLEH:RIKA RAHAYU
Malam kali ini sunyi, seperti tak seorangpun yang mengenal jalanan malam. Tiang listrik dan lampu jalanan hanya sebagai patung yang selalu diselingkuhi tiupan angin, gerimis pun tak pernah ketinggalan untuk menyempurnakan suasana yang amat memilukan untuk sebagian orang.
Udara diam menjadi sahabatku malam ini, meluapkan semua pertanyan dan makian, sesekali aku menyapunya dengan tangan agar embun tak membuatnya buta untuk malam, aku seperti para tawanan kerajaan yang tak punya jalan keluar, bersembunyi di sebuah ruang waktu yang pengap dan tak seorang pun boleh mengetahuinya, perasaan bersalah dan egoku bersaing entah sampai titik yang ke-berapa.
Aku masih seorang mahasiswi, semua orang mengenalku sebagai wanita yang aktif, ramah, peduli, penyayang, dan smart, itu yang biasa orang katakan tentangku. Sekilas itu semua akan membuatku tertawa untuk penilaian yang kuanggap terlalu hebat dan berlebihan itu, tiap kali telingaku menerimanya lagi dan lagi.
Ini berawal saat kesibukanku yang ternyata membuatku mengenal seorang pria.
Pria yang menurutku begitu sempurna jika harus kumiliki selamanya, memberiku cinta dan kasihsayang yang sangat luarbiasa, mengajariku, dan membuatku sebagai wanita yang sebenarnya. Entah bagaimana tiap bersamanya selalu saja aku bisa berpikir sejernih malaikat, tugas apapun bisa aku kerjakan dengan sangat mudah,bahkan tugas kuliah yang kerap membuatku menangis dan memukuli tembok karena sulit kupahami, dalam beberapa menit bisa kuselesaikan dengan tepat, entah dia Tuhan darimana yang bisa membuat hidupku berguna seperti ini.
Iya, dia pacarku, aku mengenalnya 2 bulan yang lalu, kami berkenalan di sebuah acara kampus dan dia adalah salahsatu teman dosen kesayanganku, yang menyeret kami harus mengakhiri acara tersebut dengan sebuah perkenalan.
Saat ini umurku 21 tahun,dan dia 29 tahun. Pertemuan demi pertemuan membuatku mulai menyukainya, aku belajar banyak hal darinya, lebih tepatnya aku mencintai semua yang Tuhan ciptakan lewat dirinya (saat sosok itu masih kumiliki).
Genggaman tangan dari seorang yang selama ini kupuja itu akan membuatku merasa aman dari apapun, tapi aku tahu persis bagaimana dunia ini menciptakan kisah antara kami, dipertemukan dengan sangat mudah dan diakhiri dengan seribu pedih.
Seorang yang membuatku mengenal arti simpanan.
Aku mungkin akan muntah saat mendengar kata itu, aku membenci kata itu sejak kecil, kata yang membuat ayahku meninggalkan Ibuku yang paling kusayang, yang akhirnya berakhir di rumah sakit jiwa bertahun lamanya, dan kemudian menghembuskan napas terakhirnya.
Bagiku, entah itu adalah sebuah pekerjaan, sebuah luapan cinta dan waktu adalah perampas tersadis untuknya, atau memang hanya sebagai ajang kesenangan untuk para pria ber'uang. Untuk yang pertama kalinya aku sulit bernapas, aku sulit mengakui satu kalimat yang aku sendiri sangat membencinya. “Iya, aku adalah simpanan dari seorang pria yang sangat kusayangi itu”.
Dia orang pertama yang membuatku percaya keajaiban.
Suatu hari saya pernah menertawainya dalam foto yang kuambil diam-diam dari facebooknya. Aku pernah berpikir pria sepertinya tidak mungkin akan membuatku jatuh cinta setelah selama ini, ribuan pria yang berwajah 1000x lipat jauh lebih indah darinya, dan kemudian aku tolak dengan ketus. Kendati seluruh sendi tubuhku dan setiap sel otakku akan membantah konsep cinta ini.
Tapi siapa yang menduga saya memang sangat jatuh cinta kepadanya. Barangkali sebabnya sederhana saja, dia punya perhatian yang tiada duanya di dunia. Jendela surga yang lewatnya kau bisa mengintip sekilas asa dan cinta, tawa dan angkara, dan tak ada yang lebih indah dari perhatian yang akan menyulapmu menjadi seorang Ratu. Hari dimana aku merasa paling rendah dan dia orang pertama yang tersenyum dan bertepuk tangan mengatakan padaku bahwa aku adalah wanita terhebat.
Aku menjalani hubungan yang semua orang menganggapnya sebagai dosa, ini sulit yang harus kutempuh, tapi aku harus bagaimana lagi, aku bahkan tak punya cara bahagia lagi selain berada di dekatnya, menemaninya bercerita, memberinya kasih-sayang yang tak dia dapatkan dari istrinya.
Aku bahkan tak peduli dia akan bercerita dengan kelelahan di wajahnya, kadang dengan senyuman, tentang pekerjaannya, tentang anaknya yang mulai menyesuaikan diri di sekolahnya yang baru dan kadang, tentang istrinya.
Aku akan mendengarkan dengan antusias. Cerita-ceritanya selalu menarik, dan yang terpenting bagiku, dia membaginya denganku.
Awalnya memang sulit untukku, saat hubungan kami berjalan dengan sangat indah dan dia harus jujur untuk status yang mengikatnya. Aku berakhir dengan diam membenci waktu, waktu yang tak pernah bisa melihatku berjodoh dengannya, aku menelan ludah yang terasa getir, aku terlalu egois, tapi aku mencintainya.
Aku mencintai suami seorang wanita yang samasekali tak aku kenal, yang samasekali tak punya dosa sedikitpun kepadaku.
Aku membenci malam saat dinginnya memakiku yang membuatku menangis, menangis dan menangis. Aku tahu bagaimana sakit yang wanita itu rasakan saat dia tahu tentangku nantinya. Aku tahu bagaimana air matanya nanti tak akan sengaja membasahi pakaian-pakaian mewahnya, saat menunggu keluarga kecilnya di meja makan untuk bersama seperti biasa, dan kenyataannya saat itu aku sedang bersama suaminya, bercanda ria membaca novel kesayangan kami, sambil menyuapi satusama lain, saling mecubit pipi, mengenakan pakaian yang sama dan saling membagi hangatnya malam.
Ini membuat semua isi otakku nyaris tumpah, aku sungguh takut mengadu kepada Tuhan, akankah dia akan mencabut nyawaku dengan sia-sia karena dosa yang terlalu berat yang sedang kujalani ini, tapi di satu sisi, aku bahkan sedang menjalani satu kewajibanku untuk mencintai seorang pria dalam hidupku.
Aku berjalan seperti tak punya kaki, melihat tak punya mata, meraba tak punya tangan. Aku hanya punya ego yang terbang bebas dalam setiap pikiranku yang bagaimana mungkin bisa untuk kujalani hingga tua.
Tuhan memberiku cobaan yang terlalu berat setelah apa yang selama ini aku dapatkan dengan mudah.
Cinta bukan cuma tak kenal logika, tanpa segan dibuatnya aku akan gila.
Hal terakhir yang membuatku hampir membenci diriku sendiri adalah saat dimana dia berbohong kepada wanita itu, wanita yang sah sebagai istrinya demi menemaniku dan membuatku senang hari itu.
Aku memintanya untuk menemaniku seharian penuh karena kondisi tubuhku sedang tak membaik, urusan kantornya pun ia abaikan begitu saja, dan panggilan dari ponselnya membuatnya harus berhenti sejenak menggelitikku dengan ocehan-ocehan lucunya yang ingin selalu melihat senyumku.
Sesuatu dalam jantungku mencelat seperti ingin jatuh, saat dia mengatakan dengan lembut “Aku masih meeting. Tidurlah. Besok aku pulang,” demikian ucapnya selalu. Dia akhiri dengan satu kalimat yang memang menjadi jatahnya.
Aku mulai mengerutkan keningku, seratus persen sadar bahwa jantungku barusaja mendengar sebuah khianat, jelas ini rumahku, bukan kantor. Kali ini, aku benar-benar merasa wanita terbodoh yang telah berbahagia di atas penderitaan seorang wanita yang tak berdosa kepadaku.
Aku telah membuat seorang pria lupa tentang kewajibannya kepada istri. Aku telah membuat seorang pria membagi cintanya untuk seorang aku yang tak punya apa-apa untuk dia banggakan kepada keluarga ningratnya.
Aku tak paham kenapa seseorang yang begitu sederhana sepertiku bisa punya daya yang begitu besar untuk mengacak surga kecil seorang ningrat ini, tempat segala sesuatu berjalan teratur, tertata, terencana itu.
Aku masih berdebar-debar saat dia mulai menutup perbincangannya itu, Sekilas aku mulai berlagak tak peduli dengan itu, yang terpenting beberapa jam berikutnya, dia menjadi milikku sepenuhnya. Selama itu pula, cuma aku yang ada di pikirannya, bukan pekerjaannya, bukan anaknya, bukan wanita itu. Cuma namaku yang akan dia sebut. Beberapa jam yang rela kutukar dengan menyebut namanya setiap hari sebelum tidur, sambil memandangi foto kami dan memeluknya dalam malam.
Aku pernah mengeluh kepadanya, meminta untuk mengajariku cara membencinya agar tak ada perasaan terlarang seperti ini, tanpa kata dia kemudian merangkulku dengan cepat dan sangat erat, lidahnya mulai kelu, susah payah diaturnya napas supaya gugupnya tak terlalu kentara padaku.
Kemudian kalimatnya mulai datang membisik di telinga kananku.“Sayang, jangan mengatakan hal seperti itu lagi kepadaku, kau tahu? Aku mungkin akan sangat gila saat kehilangan kamu dalam hidupku, ini adalah kesalahan terberatku, yang begitu saja meng’iyakan kehendak orang-tua untuk menikahkanku dengan gadis pilihannya. Jika saja kamu datang lebih awal darinya, jika saja datangmu bersamaan dengannya, sudah pasti saya akan memilihmu tak beralasan lagi.” dan semakin erat, pelukan itu nyaris membuatku sesak, tapi aku tahu itu adalah ungkapan perasaan terdalamnya untukku.
Malam ini saat kubuka ingatan-ingatan itu, aku sungguh ingin benar-benar mengusap air mataku.
“Tuhan mungkin ini kesalahan terberatku di dunia, Tuhan, salahkah aku yang ingin punya pria yang benar-benar bisa kuceritakan dengan bangga kepada dunia. Saya sungguh tak menginginkan kisah terselubung seperti ini. Tuhan, aku ingin menulis ribuan lembar surat cinta untukmu sebab aku malu menemuimu.”
Aku sudah tak peduli bahwa apa yang akan dijatahkan untukku, berkah atau kutuk, bahagia atau sengsara, senang atau malang. Meski ganjarannya tak mudah, setiap pertemuanku dengannya butuh upaya ekstra keras untuk meredakan degup jantung dan menyembunyikan semburat salah dan dosaku pada istrinya. Biarpun dadaku begitu sesak menahan ngilu setiap kali mata kami bertemu, menyalahkan waktu.
Ini hari ke 7 saat aku meninggalkannya tanpa setitik jejak.
Aku mungkin akan dan harus belajar mengabaikan egoku, demi melihatnya bahagia bersama keluarga kecilnya. Cinta kami bukan untuk diumumkan.
Cinta kami terlalu sederhana sekaligus terlalu megah untuk jadi kenyataan, kendati yang diperlukan cuma sebaris pengulangan waktu.
Kabar terakhir yang sempat kudengar tentangnya, dia sedang dirawat di sebuah rumah sakit kepercayaan keluarga nigratnya, menyebut namaku dalam tidurnya.
Dan aku harus belajar tak peduli.
R.R
07.02.14
SI PEREMPUAN ANEH
OLEH:
RIKA RAHAYU
Saya
Si Perempuan Aneh (dicap temen2) kenapa?
Saya bahkan tak berani bermimpi.
Semua mimpi yang terlintas kukembalikan lagi pada Bapak-Ibunya.
Tak heran sampai detik ini mimpi hanya jadi pagar rumahku saja.
Hidup ini terlalu rumit dan membosankan bila harus bermimpi, punya target dan kemudian hasil akhirnya Puas atau Stress (kisah yang itu-itu saja).
Seperti dipermainkan oleh waktu dengan giuran PUAS saja.
KENAPA HARUS BERMIMPI?
Jika mengikuti arus saja setiap detiknya sudah sangat penting bagiku.
Jika berjalan dengan santay saja akan lebih menjanjikan, dari resiko jatuh dan lelah, bila dibanding saat tergesa-gesa dan memaksakan tubuh untuk berlari, hasilnya tetap NOL.
"Kamu memang perempuan paling aneh yang pernah kutemui".
Saya bahkan tak berani bermimpi.
Semua mimpi yang terlintas kukembalikan lagi pada Bapak-Ibunya.
Tak heran sampai detik ini mimpi hanya jadi pagar rumahku saja.
Hidup ini terlalu rumit dan membosankan bila harus bermimpi, punya target dan kemudian hasil akhirnya Puas atau Stress (kisah yang itu-itu saja).
Seperti dipermainkan oleh waktu dengan giuran PUAS saja.
KENAPA HARUS BERMIMPI?
Jika mengikuti arus saja setiap detiknya sudah sangat penting bagiku.
Jika berjalan dengan santay saja akan lebih menjanjikan, dari resiko jatuh dan lelah, bila dibanding saat tergesa-gesa dan memaksakan tubuh untuk berlari, hasilnya tetap NOL.
"Kamu memang perempuan paling aneh yang pernah kutemui".
(Kata seorang pria padaku beberapa bulan yang lalu), tapi itu
pilihan hidupku sendiri, bukan suapan atau hidup orang yang kuidolakan, kemudian seenaknya kucopy_paste.
Saat mimpi mulai menjalar dan menyudutkanku beberapa hari ini.
Ini tentang seorang yang kuanggap dunia dan musim semi.
Boleh saja, tapi tetap akan kusembunyikan di bawah alas sepatuku sajalah
Saat mimpi mulai menjalar dan menyudutkanku beberapa hari ini.
Ini tentang seorang yang kuanggap dunia dan musim semi.
Boleh saja, tapi tetap akan kusembunyikan di bawah alas sepatuku sajalah
Jumat, 06 Juni 2014
SEHELAI KERTAS PUTIH DARINYA
OLEH: RIKA RAHAYU
Pagi-pagi buta, dia mengirim pesan di handphoneku memohon untuk bertemu. Pagi ini sangat dingin, ditambah gerimis yang seperti melarangku kemanapun, tapi kucoba merebahkannya demi rasa sayangku untuknya, dan untuk kesetiaan pada hubungan kami yang menjelang 3 tahun ini.
Ada hal penting yang ingin dia sampaikan padaku, katanya.
Selalu dan selalu mengendap dalam pikiranku, sepenting apa hal ini sehingga harus pagi buta seperti ini dia sampaikan, bukankah masih ada siang nanti, atau hari esok.
Sudahlah, itu jawabnya nanti saja sebab hanya akan menumbuhkan beberapa jerawat di wajahku jika terlalu memikirkannya.
Aku sungguh ingin berteriak sekerasnya.
Aku sungguh ingin menarik kupingnya karena tak memberiku sebuah pilihan.
Aku sungguh ingin memberinya rangkulan terakhir sebelum esok menjadi gadis bodoh yang hanya bisa menangis di samping ranjang.
Aku sungguh ingin memberinya sebilah pisau untuk menancapkannya pada jantungku.
Aku sungguh ingin kisah ini hanya milikku saja, tak berlanjut pada orang lain.
R.R
Aku masih ingat sekali garis-garis wajah lelaki yang selalu kulihat mengenakan jeans itu.
Belum lewat empat puluh delapan jam kami bertukar suara lewat telephone, dan lari-larian di pinggir taman, sarapan bersama dan saling mencubit pipi sampai memerah.
Tapi tak bisa kupungkiri, ada yang tak biasa dari wajahnya seharian ini, tapi setelah kutanyakan, dia hanya merangkulku.
Ada yang tak biasa dari suaranya seharian ini, tapi setelah kutanyakan, dia hanya mencium keningku.
Belum lewat empat puluh delapan jam kami bertukar suara lewat telephone, dan lari-larian di pinggir taman, sarapan bersama dan saling mencubit pipi sampai memerah.
Tapi tak bisa kupungkiri, ada yang tak biasa dari wajahnya seharian ini, tapi setelah kutanyakan, dia hanya merangkulku.
Ada yang tak biasa dari suaranya seharian ini, tapi setelah kutanyakan, dia hanya mencium keningku.
Pagi-pagi buta, dia mengirim pesan di handphoneku memohon untuk bertemu. Pagi ini sangat dingin, ditambah gerimis yang seperti melarangku kemanapun, tapi kucoba merebahkannya demi rasa sayangku untuknya, dan untuk kesetiaan pada hubungan kami yang menjelang 3 tahun ini.
Ada hal penting yang ingin dia sampaikan padaku, katanya.
Selalu dan selalu mengendap dalam pikiranku, sepenting apa hal ini sehingga harus pagi buta seperti ini dia sampaikan, bukankah masih ada siang nanti, atau hari esok.
Sudahlah, itu jawabnya nanti saja sebab hanya akan menumbuhkan beberapa jerawat di wajahku jika terlalu memikirkannya.
Kuambil jaket kesayanganku dan buru-buru meninggalkan rumah menuju tempat, dimana dia telah menungguku sejak tadi.
Kulihat dia dari kejauhan, yang saat itu sedang memakai jaket yang sama seperti yang ku kenakan (Hadiah ulang tahun dariku).
Belum begitu tepat di depannya dia menghampiriku dan memelukku sangat erat tanpa sepatah kata, di bawah gerimis pagi. Kumembiarkannya begitu saja, sejenak aku menikmati hangat tubuhnya yang beberapa jam kujauhi ini. Napasnya tergesa-gesa dan sangat dalam, seperti ingin menceritakan seribu kisah untukku.
"Seperti ingin pergi jauh saja sayang, kau memelukku seperti ini, aku baru saja datang, tidak akan kurela meninggalkanmu dengan cepat dari sini, ayo lepaskan aku..., aku sulit bernapas sayang " ucapku dengan sedikit lelucon rindu padanya, perlahan kutarik tubuhnya, kulihat dia menangis dan menyisahkan airmata di pakaian belakangku.
"Sayang, kamu kenapa? Kamu baik-baik saja kan? Sini aku peluk lagi biar kamu hangat, aku akan mendengarkanmu sepanjang hari ini jika kau mau."
Dia hanya menggelengkan kepala, kemudian menarik sebuah kertas kosong dari kantung jaketnya dengan tubuh yang gemetar, mengisinya dengan tulisan secepat mungkin, dia menarik lembut tanganku dan meletakkan kertas itu pada telapakku, dia hanya tertunduk seakan tak sudi melihat wajahku lagi, lalu telapak tangannya menuju ujung kepalaku dan mengusap-usap rambutku yang tertutup hijab.
Tanpa ada kata lagi keluar dari mulutnya, dia lalu membalikkan badan dan berjalan menjauhiku, sempat kulihat sebatang pulpen menyembul dari kantung yang terletak di jaketnya.
“Sudahlah, mungkin nanti dia akan menelponku untuk menjelaskannya” dalam hati ucapku untuk membuat sepotong bagian hatiku merasa tenang.
Kupercepat langkahku menuju rumah, agar gerimis ini tak mengubahku menjadi gadis pagi yang kotor dan lembab.
Rasanya ingin dengan segera membuka kertas itu.
Kulihat dia dari kejauhan, yang saat itu sedang memakai jaket yang sama seperti yang ku kenakan (Hadiah ulang tahun dariku).
Belum begitu tepat di depannya dia menghampiriku dan memelukku sangat erat tanpa sepatah kata, di bawah gerimis pagi. Kumembiarkannya begitu saja, sejenak aku menikmati hangat tubuhnya yang beberapa jam kujauhi ini. Napasnya tergesa-gesa dan sangat dalam, seperti ingin menceritakan seribu kisah untukku.
"Seperti ingin pergi jauh saja sayang, kau memelukku seperti ini, aku baru saja datang, tidak akan kurela meninggalkanmu dengan cepat dari sini, ayo lepaskan aku..., aku sulit bernapas sayang " ucapku dengan sedikit lelucon rindu padanya, perlahan kutarik tubuhnya, kulihat dia menangis dan menyisahkan airmata di pakaian belakangku.
"Sayang, kamu kenapa? Kamu baik-baik saja kan? Sini aku peluk lagi biar kamu hangat, aku akan mendengarkanmu sepanjang hari ini jika kau mau."
Dia hanya menggelengkan kepala, kemudian menarik sebuah kertas kosong dari kantung jaketnya dengan tubuh yang gemetar, mengisinya dengan tulisan secepat mungkin, dia menarik lembut tanganku dan meletakkan kertas itu pada telapakku, dia hanya tertunduk seakan tak sudi melihat wajahku lagi, lalu telapak tangannya menuju ujung kepalaku dan mengusap-usap rambutku yang tertutup hijab.
Tanpa ada kata lagi keluar dari mulutnya, dia lalu membalikkan badan dan berjalan menjauhiku, sempat kulihat sebatang pulpen menyembul dari kantung yang terletak di jaketnya.
“Sudahlah, mungkin nanti dia akan menelponku untuk menjelaskannya” dalam hati ucapku untuk membuat sepotong bagian hatiku merasa tenang.
Kupercepat langkahku menuju rumah, agar gerimis ini tak mengubahku menjadi gadis pagi yang kotor dan lembab.
Rasanya ingin dengan segera membuka kertas itu.
Kesalahan apa yang telah kuperbuat hingga membuatnya samasekali tak sudi mengucap sepatah kata padaku.
Pertanyan demi-pertanyaan menusukku, membentang rasa takut yang begitu hebat.
Saat itu aku menghela napas panjang saat mulai membaca tulisan besar di kolom utama.
"Maaf sayang, hubungan kita tak bisa sejauh yang kamu impikan, saya tak mampu membuat satu rangkaian kata di depanmu. sayang, kamu membuatku terlalu melampaui batas bahagia selama ini, saya tak mampu dan tak pantas mambuat air matamu jatuh di hadapanku, ini takdir kita.
Saya menikah hari ini dengan gadis ningrat pilihan mama.
Saya memilih kebahagiaan orang tuaku.
maaf sayang...."
Aku menengok sisa tumpukan roti dan air di meja tepat di belakangku, kucoba untuk memaksakannya masuk di lambungku, berharap yang kubaca tadi hanya efek dari rasa laparku.
Kubaca, baca dan baca ratusan kali, tulisannya tetap sama.
Mencoba menyamakan gambar sosok yang ada di dalamnya dengan seorang lelaki di depanku tadi, mataku menyipit dan arah pandangku berganti-ganti, kadang aku berpikir melewati batas kewarasanku, tanganku mulai bergetar.
Ada yang tertahan dari kerongkonganku.
Saat itu aku menghela napas panjang saat mulai membaca tulisan besar di kolom utama.
"Maaf sayang, hubungan kita tak bisa sejauh yang kamu impikan, saya tak mampu membuat satu rangkaian kata di depanmu. sayang, kamu membuatku terlalu melampaui batas bahagia selama ini, saya tak mampu dan tak pantas mambuat air matamu jatuh di hadapanku, ini takdir kita.
Saya menikah hari ini dengan gadis ningrat pilihan mama.
Saya memilih kebahagiaan orang tuaku.
maaf sayang...."
Aku menengok sisa tumpukan roti dan air di meja tepat di belakangku, kucoba untuk memaksakannya masuk di lambungku, berharap yang kubaca tadi hanya efek dari rasa laparku.
Kubaca, baca dan baca ratusan kali, tulisannya tetap sama.
Mencoba menyamakan gambar sosok yang ada di dalamnya dengan seorang lelaki di depanku tadi, mataku menyipit dan arah pandangku berganti-ganti, kadang aku berpikir melewati batas kewarasanku, tanganku mulai bergetar.
Ada yang tertahan dari kerongkonganku.
Ternyata itu jawaban mengapa sepagi ini dia menemuiku, ternyata itu jawaban mengapa wajah dan suaranya lain beberapa hari ini, ternyata itu jawaban mengapa dia tak sudi memberiku sepatah kata.
Aku sungguh ingin berteriak sekerasnya.
Aku sungguh ingin menarik kupingnya karena tak memberiku sebuah pilihan.
Aku sungguh ingin memberinya rangkulan terakhir sebelum esok menjadi gadis bodoh yang hanya bisa menangis di samping ranjang.
Aku sungguh ingin memberinya sebilah pisau untuk menancapkannya pada jantungku.
Aku sungguh ingin kisah ini hanya milikku saja, tak berlanjut pada orang lain.
R.R
DEAR ANDHY
OLEH : RIKA RAHAYU
Hy, Apa kabar dhy?
Belakangan ini aku sibuk dengan tulisan-tulisanku. Di antara tulisan itu, di dalamnya ada artikel tentang kamu juga. Judulnya “PRIA YANG TERLALU HEBAT UNTUKKU, karena artikel itu aku tulis setelah kita berpisah. Sejujurnya, dari sekian banyak tulisanku, aku selalu ingat ada senyum kamu yang bergantung pada ingatanku saat menulis tulisan itu, bahkan sampai detik ini ketika aku mengedit dan membacanya berulang. Aku nggak nangis waktu kita pisah ataupun tak ada kabar tentangmu lagi, tak ada SMS selamat pagi,dan selamat tidur untukku lagi, aku bahkan nggak nangis waktu memutuskan untuk menjauhimu, aku pikir kamu udah bahagia. And I did believe so kamu tampak tenang sekali di sana, di peti itu. kamu kurus, tapi kamu seperti tersenyum. Seakan ingin bilang ke semua orang, “aku udah nggak apa-apa. Kalian bisa berhenti khawatir.”
Tapi sekarang aku nangis dhy.
Andhy kangen banget dengan kamu, kangen senyuman kamu, kangen makan bareng lagi, kangen ketawa-ketawa lagi.dhy, kenapa kamu membuatku nangis seperti ini? Kenapa beberapa hari ini air mataku nggak bisa berhenti ingat kamu? Berapa tahun sejak kamu pergi? Sejak hubungan kita berakhir bersamaan tepat dengan hembusan napas terakhirmu. tiga? empat? lima? Aku bahkan sudah lupa kapan hari itu terjadi, dan sekarang rasanya aku rela ngasih apa saja supaya bisa ketemu kamu sekali lagi dhy, ketika kamu masih bisa senyum, ketika aku masih bisa gangguin kamu yang sedang tidur, dan saat-saat kita bisa sama-sama ketawa.Di atas sana kayak apa, dhy? Indah atau nyakitin?
dhy, aku nggak pernah dapet kesempatan untuk ngomong ini ke kamu. Tapi sekarang aku mau bilang.
Terima kasih karena udah pernah ada di hidupku. Terima kasih udah jadi kekasihku waktu itu. Terima kasih untuk tahun-tahun indah yang kita lewati bareng-bareng. Terima kasih untuk setiap senyum dan tawa yang pernah kita bagi, yang masih bisa aku kenang sampai sekarang ketika kamu udah nggak ada, kamu nggak akan pernah tahu betapa berartinya itu semua, ketika segalanya lenyap, membiarkanku menjalani hidup sendiri tanpa kamu, yang tersisa cuma kenangan. Dan kenangan itu aku jaga, karena aku belum mau lupa.
Tapi dhy, sekarang aku sedang hidup dengan seorang pria yang sifatnya sama persis denganmu, aku memilihnya karena dengannya aku bisa menemui kamu yang dulu, namanya pun persis denganmu. Aku harap kamu ngga akan marah padaku dhy.
R.R
for Andhy (Mantan Terindah).
Hy, Apa kabar dhy?
Belakangan ini aku sibuk dengan tulisan-tulisanku. Di antara tulisan itu, di dalamnya ada artikel tentang kamu juga. Judulnya “PRIA YANG TERLALU HEBAT UNTUKKU, karena artikel itu aku tulis setelah kita berpisah. Sejujurnya, dari sekian banyak tulisanku, aku selalu ingat ada senyum kamu yang bergantung pada ingatanku saat menulis tulisan itu, bahkan sampai detik ini ketika aku mengedit dan membacanya berulang. Aku nggak nangis waktu kita pisah ataupun tak ada kabar tentangmu lagi, tak ada SMS selamat pagi,dan selamat tidur untukku lagi, aku bahkan nggak nangis waktu memutuskan untuk menjauhimu, aku pikir kamu udah bahagia. And I did believe so kamu tampak tenang sekali di sana, di peti itu. kamu kurus, tapi kamu seperti tersenyum. Seakan ingin bilang ke semua orang, “aku udah nggak apa-apa. Kalian bisa berhenti khawatir.”
Tapi sekarang aku nangis dhy.
Andhy kangen banget dengan kamu, kangen senyuman kamu, kangen makan bareng lagi, kangen ketawa-ketawa lagi.dhy, kenapa kamu membuatku nangis seperti ini? Kenapa beberapa hari ini air mataku nggak bisa berhenti ingat kamu? Berapa tahun sejak kamu pergi? Sejak hubungan kita berakhir bersamaan tepat dengan hembusan napas terakhirmu. tiga? empat? lima? Aku bahkan sudah lupa kapan hari itu terjadi, dan sekarang rasanya aku rela ngasih apa saja supaya bisa ketemu kamu sekali lagi dhy, ketika kamu masih bisa senyum, ketika aku masih bisa gangguin kamu yang sedang tidur, dan saat-saat kita bisa sama-sama ketawa.Di atas sana kayak apa, dhy? Indah atau nyakitin?
dhy, aku nggak pernah dapet kesempatan untuk ngomong ini ke kamu. Tapi sekarang aku mau bilang.
Terima kasih karena udah pernah ada di hidupku. Terima kasih udah jadi kekasihku waktu itu. Terima kasih untuk tahun-tahun indah yang kita lewati bareng-bareng. Terima kasih untuk setiap senyum dan tawa yang pernah kita bagi, yang masih bisa aku kenang sampai sekarang ketika kamu udah nggak ada, kamu nggak akan pernah tahu betapa berartinya itu semua, ketika segalanya lenyap, membiarkanku menjalani hidup sendiri tanpa kamu, yang tersisa cuma kenangan. Dan kenangan itu aku jaga, karena aku belum mau lupa.
Tapi dhy, sekarang aku sedang hidup dengan seorang pria yang sifatnya sama persis denganmu, aku memilihnya karena dengannya aku bisa menemui kamu yang dulu, namanya pun persis denganmu. Aku harap kamu ngga akan marah padaku dhy.
R.R
for Andhy (Mantan Terindah).
Langganan:
Postingan (Atom)




_mr1385897125298_mh1385897157748.jpg)



