OLEH : RIKA RAHAYU
Mengira-ngira
namamu dalam gulita perabaan dunia.
Hujanan kalimat
demi kalimat kau curahkan padaku setiap malam.
Rangkaian kata
tentang rindu kau semayamkan dalam setiap ingatanku yang diam.
Ingin,
kuluapkan
jawaban serupa padamu saat itu.
Membalas, dengan
bisikan gegas kata paling indah, yang malaikatpun tak pernah mendengarnya.
Apa yang tumbuh
dalam malam?
Yang hendak
membunuhku pada ingatanku tentang pelukanmu.
Hanya,
Pelukan
kosong yang tiap malam kugumamkan dalam malam-malam tanpamu.
Resah,
kulumpuhkan
kata-kata,
dan kumulai menyurati angin yang berkedip lintas di atas jendelaku.
Tentang, malam yang
hendak kurebut kembali.
Hanya sang mata
rembulan hadir sebagai pengobat bisu.
Kulukis-lukis
senyummu yang penuh rinduku.
Sesekali kau
berkedip tanda ada yang kau ambil ricuh dari hatiku.
Kau katakan
berulang,
Tentang resah,
hari
kemarin yang ingin merampasku.
Kala para pemuja terlelap.
Adalah diri tak
ingin terkikis habis oleh penantian panjang.
Aku mulai
menggigit-gigit mimpiku bersamamu,
Saat malam mulai
merebut dengan paksa,
Memenjarakanku di
sini, yang tak bisa kulihat sedikitpun bayangmu yang sebelumnya dapat kusentuh.
Aku mulai,
mencari-cari malamku yang hilang itu.
Aku mulai, bersujud
dalam satu kecupan permohonanku untuk rindu.
Andai,
sang jarak,
dan prajurit waktu.
Bisa mengerti
keluhku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar