OLEH : RIKA RAHAYU
Inikah akhir lupa yang dikirim angin,
untuk seorang putri pemimpi sepertiku?
Inikah celah nadi itu,
yang sempat dirantau darah kentalku kemarin?
Tidak.
Ini lebih mirip dengan kibasan basah,
yang setiap saat menjanjikanku mimpi mimpi kosong.
Meraung-raung pada sobekan daun.
Menagkap cahaya dengan kedua tangan.
Apapun itu, ingin aku saksikan.
Betapa dia akan memabukkanku dalam hari.
Sebagai sukma yang kosong,
kumasukkan rasa yang tak pernah kutemukan itu.
Aku terlalu bodoh,
berteman hidrasi, kumencari jiwa itu di lain dimensi sana.
Yang ternyata hanya tepat di depan mata.
Dan...
Dia pergi saat diamku mulai mencamuknya.
Dia pergi bersama maafku yang patah.
Dia pergi bersama kisahku yang tak pernah usai itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar