Sabtu, 07 Juni 2014

SURAT CINTA UNTUK TUHAN


OLEH:RIKA RAHAYU





   Malam kali ini sunyi, seperti tak seorangpun yang mengenal jalanan malam. Tiang listrik dan lampu jalanan hanya sebagai patung yang selalu diselingkuhi tiupan angin, gerimis pun tak pernah ketinggalan untuk menyempurnakan suasana yang amat memilukan untuk sebagian orang.

Udara diam menjadi sahabatku malam ini, meluapkan semua pertanyan dan makian, sesekali aku menyapunya dengan tangan agar embun tak membuatnya buta untuk malam, aku seperti para tawanan kerajaan yang tak punya jalan keluar, bersembunyi di sebuah ruang waktu yang pengap dan tak seorang pun boleh mengetahuinya, perasaan bersalah dan egoku bersaing entah sampai titik yang ke-berapa.

   Aku masih seorang mahasiswi, semua orang mengenalku sebagai wanita yang aktif, ramah, peduli, penyayang, dan smart, itu yang biasa orang katakan tentangku. Sekilas itu semua akan membuatku tertawa untuk penilaian yang kuanggap terlalu hebat dan berlebihan itu, tiap kali telingaku menerimanya lagi dan lagi.

Ini berawal saat kesibukanku yang ternyata membuatku mengenal seorang pria.
Pria yang menurutku begitu sempurna jika harus kumiliki selamanya, memberiku cinta dan kasihsayang yang sangat luarbiasa, mengajariku, dan membuatku sebagai wanita yang sebenarnya. Entah bagaimana tiap bersamanya selalu saja aku bisa berpikir sejernih malaikat, tugas apapun bisa aku kerjakan dengan sangat mudah,bahkan tugas kuliah yang kerap membuatku menangis dan memukuli tembok karena sulit kupahami, dalam beberapa menit bisa kuselesaikan dengan tepat, entah dia Tuhan darimana yang bisa membuat hidupku berguna seperti ini.

   Iya, dia pacarku, aku mengenalnya 2 bulan yang lalu, kami berkenalan di sebuah acara kampus dan dia adalah salahsatu teman dosen kesayanganku, yang menyeret kami harus mengakhiri acara tersebut dengan sebuah perkenalan.

Saat ini umurku 21 tahun,dan dia 29 tahun. Pertemuan demi pertemuan membuatku mulai menyukainya, aku belajar banyak hal darinya, lebih tepatnya aku mencintai semua yang Tuhan ciptakan lewat dirinya (saat sosok itu masih kumiliki).
Genggaman tangan dari seorang yang selama ini kupuja itu akan membuatku merasa aman dari apapun, tapi aku tahu persis bagaimana dunia ini menciptakan kisah antara kami, dipertemukan dengan sangat mudah dan diakhiri dengan seribu pedih.
Seorang yang membuatku mengenal arti simpanan.
Aku mungkin akan muntah saat mendengar kata itu, aku membenci kata itu  sejak kecil, kata yang membuat ayahku meninggalkan Ibuku yang paling kusayang, yang akhirnya berakhir di rumah sakit jiwa bertahun lamanya, dan kemudian menghembuskan napas terakhirnya.                                                                                                                       
Bagiku, entah itu adalah sebuah pekerjaan, sebuah luapan cinta dan waktu adalah perampas tersadis untuknya, atau memang hanya sebagai ajang kesenangan untuk para pria ber'uang. Untuk yang pertama kalinya aku sulit bernapas, aku sulit mengakui satu kalimat yang aku sendiri sangat membencinya. “Iya, aku adalah simpanan dari seorang pria yang sangat kusayangi itu”.
Dia orang pertama yang membuatku percaya keajaiban.
Suatu hari saya pernah menertawainya dalam foto yang kuambil diam-diam dari facebooknya. Aku pernah berpikir pria sepertinya tidak mungkin akan membuatku jatuh cinta setelah selama ini, ribuan pria yang berwajah 1000x lipat jauh lebih indah darinya, dan kemudian aku tolak dengan ketus. Kendati seluruh sendi tubuhku dan setiap sel otakku akan membantah konsep cinta ini.
Tapi siapa yang menduga saya memang sangat jatuh cinta kepadanya. Barangkali sebabnya sederhana saja, dia punya perhatian yang tiada duanya di dunia. Jendela surga yang lewatnya kau bisa mengintip sekilas asa dan cinta, tawa dan angkara, dan tak ada yang lebih indah dari perhatian yang akan menyulapmu menjadi seorang Ratu. Hari dimana aku merasa paling rendah dan dia orang pertama yang tersenyum dan bertepuk tangan mengatakan padaku bahwa  aku adalah wanita terhebat.

   Aku menjalani hubungan yang semua orang menganggapnya sebagai dosa, ini sulit yang harus kutempuh, tapi aku harus bagaimana lagi, aku bahkan tak punya cara bahagia lagi selain berada di dekatnya, menemaninya bercerita, memberinya kasih-sayang yang tak dia dapatkan dari istrinya.

Aku bahkan tak peduli dia akan bercerita dengan kelelahan di wajahnya, kadang dengan senyuman, tentang pekerjaannya, tentang anaknya yang mulai menyesuaikan diri di sekolahnya yang baru dan kadang, tentang istrinya.
Aku akan mendengarkan dengan antusias. Cerita-ceritanya selalu menarik, dan yang terpenting bagiku, dia membaginya denganku.

Awalnya memang sulit untukku, saat hubungan kami berjalan dengan sangat indah dan dia harus jujur untuk status yang mengikatnya. Aku berakhir dengan diam membenci waktu, waktu yang tak pernah bisa melihatku berjodoh dengannya, aku menelan ludah yang terasa getir, aku terlalu egois, tapi aku mencintainya.

Aku mencintai suami seorang wanita yang samasekali tak aku kenal, yang samasekali tak punya dosa sedikitpun kepadaku.

Aku membenci malam saat dinginnya memakiku yang membuatku menangis, menangis dan menangis. Aku tahu bagaimana sakit yang wanita itu rasakan saat dia tahu tentangku nantinya. Aku tahu bagaimana air matanya nanti tak akan sengaja membasahi pakaian-pakaian mewahnya, saat menunggu keluarga kecilnya di meja makan untuk bersama seperti biasa, dan kenyataannya saat itu aku sedang bersama suaminya, bercanda ria membaca novel kesayangan kami, sambil menyuapi satusama lain, saling mecubit pipi, mengenakan pakaian yang sama dan saling membagi hangatnya malam.

Ini membuat semua isi otakku nyaris tumpah, aku sungguh takut mengadu kepada Tuhan, akankah dia akan mencabut nyawaku dengan sia-sia karena dosa yang terlalu berat yang sedang kujalani ini, tapi di satu sisi, aku bahkan sedang menjalani satu kewajibanku untuk mencintai seorang pria dalam hidupku.

Aku berjalan seperti tak punya kaki, melihat tak punya mata, meraba tak punya tangan. Aku hanya punya ego yang terbang bebas dalam setiap pikiranku yang bagaimana mungkin bisa untuk kujalani hingga tua.

Tuhan memberiku cobaan yang terlalu berat setelah apa yang selama ini aku dapatkan dengan mudah.
Cinta bukan cuma tak kenal logika, tanpa segan dibuatnya aku akan gila.

   Hal terakhir yang membuatku hampir membenci diriku sendiri adalah saat dimana dia berbohong kepada wanita itu, wanita yang sah sebagai istrinya demi menemaniku dan membuatku senang hari itu.

Aku memintanya untuk menemaniku seharian penuh karena kondisi tubuhku sedang tak membaik, urusan kantornya pun ia abaikan begitu saja, dan panggilan dari ponselnya membuatnya harus berhenti sejenak menggelitikku dengan ocehan-ocehan lucunya yang ingin selalu melihat senyumku.
Sesuatu dalam jantungku mencelat seperti ingin jatuh, saat dia mengatakan dengan lembut  “Aku masih meeting. Tidurlah. Besok aku pulang,” demikian ucapnya selalu. Dia akhiri dengan satu kalimat yang memang menjadi jatahnya.
Aku mulai mengerutkan keningku, seratus persen sadar bahwa jantungku barusaja mendengar sebuah khianat, jelas ini rumahku, bukan kantor. Kali ini, aku benar-benar merasa wanita terbodoh yang telah berbahagia di atas penderitaan seorang wanita yang tak berdosa kepadaku.

Aku telah membuat seorang pria lupa tentang kewajibannya kepada istri. Aku telah membuat seorang pria membagi cintanya untuk seorang aku yang tak punya apa-apa untuk dia banggakan kepada keluarga ningratnya.

Aku tak paham kenapa seseorang yang begitu sederhana sepertiku bisa punya daya yang begitu besar untuk mengacak surga kecil seorang ningrat ini, tempat segala sesuatu berjalan teratur, tertata, terencana itu.

   Aku masih berdebar-debar saat dia mulai menutup perbincangannya itu, Sekilas aku mulai berlagak tak peduli dengan itu, yang terpenting beberapa jam berikutnya, dia menjadi milikku sepenuhnya. Selama itu pula, cuma aku yang ada di pikirannya, bukan pekerjaannya, bukan anaknya, bukan wanita itu. Cuma namaku yang akan dia sebut. Beberapa jam yang rela kutukar dengan menyebut namanya setiap hari sebelum tidur, sambil memandangi foto kami dan memeluknya dalam malam.

Aku pernah mengeluh kepadanya, meminta untuk mengajariku cara membencinya agar tak ada perasaan terlarang seperti ini, tanpa kata dia kemudian merangkulku dengan cepat dan sangat erat, lidahnya mulai kelu, susah payah diaturnya napas supaya gugupnya tak terlalu kentara padaku.
Kemudian kalimatnya mulai datang membisik di telinga kananku.“Sayang, jangan mengatakan hal seperti itu lagi kepadaku, kau tahu? Aku mungkin akan sangat gila saat kehilangan kamu dalam hidupku, ini adalah kesalahan terberatku, yang begitu saja meng’iyakan kehendak orang-tua untuk menikahkanku dengan gadis pilihannya. Jika saja kamu datang lebih awal darinya, jika saja datangmu bersamaan dengannya, sudah pasti saya akan memilihmu tak beralasan lagi.” dan semakin erat, pelukan itu nyaris membuatku sesak, tapi aku tahu itu adalah ungkapan perasaan terdalamnya untukku.

   Malam ini saat kubuka ingatan-ingatan itu, aku sungguh ingin benar-benar mengusap air mataku.

“Tuhan mungkin ini kesalahan terberatku di dunia, Tuhan, salahkah aku yang ingin punya pria yang benar-benar bisa kuceritakan dengan bangga kepada dunia. Saya sungguh tak menginginkan kisah terselubung seperti ini. Tuhan, aku ingin menulis ribuan lembar surat cinta untukmu sebab aku malu menemuimu.”

Aku sudah tak peduli bahwa apa yang akan dijatahkan untukku, berkah atau kutuk, bahagia atau sengsara, senang atau malang. Meski ganjarannya tak mudah, setiap pertemuanku dengannya butuh upaya ekstra keras untuk meredakan degup jantung dan menyembunyikan semburat salah dan dosaku pada istrinya. Biarpun dadaku begitu sesak menahan ngilu setiap kali mata kami bertemu, menyalahkan waktu.


Ini hari ke 7 saat aku meninggalkannya tanpa setitik jejak.

Aku mungkin akan dan harus belajar mengabaikan egoku, demi melihatnya bahagia bersama keluarga kecilnya. Cinta kami bukan untuk diumumkan.
Cinta kami terlalu sederhana sekaligus terlalu megah untuk jadi kenyataan, kendati yang diperlukan cuma sebaris pengulangan waktu.
Kabar terakhir yang sempat kudengar tentangnya, dia sedang dirawat di sebuah rumah sakit kepercayaan keluarga nigratnya, menyebut namaku dalam tidurnya.

Dan aku harus belajar tak peduli.


R.R

07.02.14








Tidak ada komentar:

Posting Komentar