Jumat, 06 Juni 2014

SEHELAI KERTAS PUTIH DARINYA

OLEH: RIKA RAHAYU







   Aku masih ingat sekali garis-garis wajah lelaki yang selalu kulihat mengenakan jeans itu.
Belum lewat empat puluh delapan jam kami bertukar suara lewat telephone, dan lari-larian di pinggir taman, sarapan bersama dan saling mencubit pipi sampai memerah.
Tapi tak bisa kupungkiri, ada yang tak biasa dari wajahnya seharian ini, tapi setelah kutanyakan, dia hanya merangkulku.
Ada yang tak biasa dari suaranya seharian ini, tapi setelah kutanyakan, dia hanya mencium keningku.

Pagi-pagi buta, dia mengirim pesan di handphoneku memohon untuk bertemu. Pagi ini sangat dingin, ditambah gerimis yang seperti melarangku kemanapun, tapi kucoba merebahkannya demi rasa sayangku untuknya, dan untuk kesetiaan pada hubungan kami yang menjelang 3 tahun ini.
Ada hal penting yang ingin dia sampaikan padaku, katanya.
Selalu dan selalu mengendap dalam pikiranku, sepenting apa hal ini sehingga harus pagi buta seperti ini dia sampaikan, bukankah masih ada siang nanti, atau hari esok.
Sudahlah, itu jawabnya nanti saja sebab hanya akan menumbuhkan beberapa jerawat di wajahku jika terlalu memikirkannya.

Kuambil jaket kesayanganku dan buru-buru meninggalkan rumah menuju tempat, dimana dia telah menungguku sejak tadi.
Kulihat dia dari kejauhan, yang saat itu sedang memakai jaket yang sama seperti yang ku kenakan (Hadiah ulang tahun dariku).
Belum begitu tepat di depannya dia menghampiriku dan memelukku sangat erat tanpa sepatah kata, di bawah gerimis pagi. Kumembiarkannya begitu saja, sejenak aku menikmati hangat tubuhnya yang beberapa jam kujauhi ini. Napasnya tergesa-gesa dan sangat dalam, seperti ingin menceritakan seribu kisah untukku.


"Seperti ingin pergi jauh saja sayang, kau memelukku seperti ini, aku baru saja datang, tidak akan kurela meninggalkanmu dengan cepat dari sini, ayo lepaskan aku..., aku sulit bernapas sayang " ucapku dengan sedikit lelucon rindu padanya, perlahan kutarik tubuhnya, kulihat dia menangis dan menyisahkan airmata di pakaian belakangku.
"Sayang, kamu kenapa? Kamu baik-baik saja kan? Sini aku peluk lagi biar kamu hangat, aku akan mendengarkanmu sepanjang hari ini jika kau mau."
Dia hanya menggelengkan kepala, kemudian menarik sebuah kertas kosong dari kantung jaketnya dengan tubuh yang gemetar, mengisinya dengan tulisan secepat mungkin, dia menarik lembut tanganku dan meletakkan kertas itu pada telapakku, dia hanya tertunduk seakan tak sudi melihat wajahku lagi, lalu telapak tangannya menuju ujung kepalaku dan mengusap-usap rambutku yang tertutup hijab.
Tanpa ada kata lagi keluar dari mulutnya, dia lalu membalikkan badan dan berjalan menjauhiku, sempat kulihat sebatang pulpen menyembul dari kantung yang terletak di jaketnya.
“Sudahlah, mungkin nanti dia akan menelponku untuk menjelaskannya” dalam hati ucapku untuk membuat sepotong bagian hatiku merasa tenang.

Kupercepat langkahku menuju rumah, agar gerimis ini tak mengubahku menjadi gadis pagi yang kotor dan lembab.
Rasanya ingin dengan segera membuka kertas itu.
Kesalahan apa yang telah kuperbuat hingga membuatnya samasekali tak sudi mengucap sepatah kata padaku.
Pertanyan demi-pertanyaan menusukku, membentang rasa takut yang begitu hebat.
Saat itu aku menghela napas panjang saat mulai membaca tulisan besar di kolom utama.


"Maaf sayang, hubungan kita tak bisa sejauh yang kamu impikan, saya tak mampu membuat satu rangkaian kata di depanmu. sayang, kamu membuatku terlalu melampaui batas bahagia selama ini, saya tak mampu dan tak pantas mambuat air matamu jatuh di hadapanku, ini takdir kita.
Saya menikah hari ini dengan gadis ningrat pilihan mama.
Saya memilih kebahagiaan orang tuaku.
maaf sayang...."


    Aku menengok sisa tumpukan roti dan air di meja tepat di belakangku, kucoba untuk memaksakannya masuk di lambungku, berharap yang kubaca tadi hanya efek dari rasa laparku.
Kubaca, baca dan baca ratusan kali, tulisannya tetap sama.
Mencoba menyamakan gambar sosok yang ada di dalamnya dengan seorang lelaki di depanku tadi, mataku menyipit dan arah pandangku berganti-ganti, kadang aku berpikir melewati batas kewarasanku, tanganku mulai bergetar.
Ada yang tertahan dari kerongkonganku.
Ternyata itu jawaban mengapa sepagi ini dia menemuiku, ternyata itu jawaban mengapa wajah dan suaranya lain beberapa hari ini, ternyata itu jawaban mengapa dia tak sudi memberiku sepatah kata.

Aku sungguh ingin berteriak sekerasnya.
Aku sungguh ingin menarik kupingnya karena tak memberiku sebuah pilihan.
Aku sungguh ingin memberinya rangkulan terakhir sebelum esok menjadi gadis bodoh yang hanya bisa menangis di samping ranjang.
Aku sungguh ingin memberinya sebilah pisau untuk menancapkannya pada jantungku.


Aku sungguh ingin kisah ini hanya milikku saja, tak berlanjut pada orang lain.


R.R




Tidak ada komentar:

Posting Komentar