Kamis, 07 Agustus 2014

Narasi Persaudaraan Di Atas Permukaan Air

OLEH : RIKA RAHAYU



Angin mendesau berbisik.
Menyindir para ombak yang berlarian mematuk.
Menyerbu kami

yang datang di rumah para nelayan tua ini.


Kami,
kami hari ini di sini,
mengusap ombak-ombak kecil
yang berhasil memberi basahan di ujung jari kami.
Menyentuh garis-garis air di pelukan perahu lapuk yang kami pijak.
Garis-garis air
yang memberi kami tawa kecil,
yang sesungguhnya berperasaan gaduh.

Wahai ombak...
Kami di sini mengaku saudara.
Kami di sini mengaku kokoh.
Kami di sini berpaku dalam kasih dan sayang.

Tapi,
Kami di sini terawasi waktu,
Waktu yang selalu ingin merebut kebersamaan abadi kami.
Tumpangan karpetmu begitu empuk di hati
untuk sejenak kami tempati bertamu.

Esok kami harus saling menciumi kening satu dengan yang lain.
Kami harus berpeluk erat
sebelum waktu benar-benar mengutuk pisah di antara kami.

Esok kami harus pergi lagi
Pergi untuk sebuah cita-cita
Cita-cita yang masih terkubur dalam
di perut perairan luas sana.

Terimalah teriakan lepas kami di permukaanmu ini,
sebagai ucapan Terimakasih atas Narasi Persaudaraan Kami.

R.R
02.08.14

Selasa, 05 Agustus 2014

PERKENANGKAN AKU (Menjadi Seorang Pelupa)

OLEH : RIKA RAHAYU

Dalam suatu petaka

kamu adalah rasa takut yang paling kupuja.
Tiada tawa yang lahir prematur,
dalam kisah yang kumulai indah ini.
Dan,
Semua rasa yang kucipta itu,
kini bisa kuhembuskan dengan damai.

Mungkin hatiku,

tempat bersandar yang terlupa.
semoga kamu tahu.
meski telah mati,
masa lalu itu akan tetap nyata.

jika berkenang kau buka telinga,

ada kata yang ingin kusampaikan.
Bahwa
daripada kata perpisahan itu
yang lebih menyakitkan adalah kenyataan,
bahwa aku tak pernah diperjuangkan.

Sempat tak lagi kulihat bintang di angkasa

karena semenjak kamu tak ada,
aku buta.
sempat tak kudengar lagi gemercik air berbunyi,
saat suaramu tak ada lagi memanjakanku.
tanpa kamu,
pelangi hanyalah lengkungan hitam-putih.

Hari ini aku sadar,

tak ada lagi hari kemarin itu.
saat ini aku hanya percaya
tak akan mampu seorang aku
melihat dan memeluk laju angin.

ini aku,

dengan semua pesan yang tertahan
saat kau putuskan menghapusku.
jika seorang kamu
telah menjadi sebuah masa lalu, maka
perkenangkan aku menjadi
seorang pelupa


R.R
05.08.14







Jumat, 11 Juli 2014

INI ADALAH RIWAYATKU

OLEH : RIKA RAHAYU




Tentang Hal Yang Harus Kau Ketahui.

Saat awal kita bertemu dan kemudian disusul pertemuan-pertemuan berikutnya,

saya mempelajari sikapmu,
saat itu saya tahu bahwa kamu adalah orang baik.
Makanya, saya berniat menjadikanmu orang teristimewa di antara sahabat-sahabatku.
Dan akhirnya kuanggap kau sebagai saudaraku.

Kuberikan perhatian lebihku,

Kurelakan dan kukorbankan waktu pentingku untuk membalas setiap pesanmu,
mendengar semua curahan hatimu,
dan kemudian berusaha memberikanmu solusi yang menurutku baik,
hal yang jarang bahkan tak pernah kulakukan untuk sahabat-sahabatku yang lain.
Dan itu semua untuk membuatmu merasa nyaman denganku,
membuatmu merasa percaya padaku.

Dari keakraban dan kebersamaan itulah,

entah kenapa selalu saja tercipta rindu,
untuk sosok yang kuanggap saudara,
bahkan lebih dari saudara kandungku sendiri.

Belakangan ini, saya selalu saja senyum sendiri menatap fotomu di handphoneku,

Entah hal lucu apa yang ada di rautmu saat itu.
Parahnya lagi,
saya selalu saja berbicara dengan gambar itu seolah kau ada.

Setelah jarak memaksa kita untuk mengurangi jumlah pertemuan kita.

Aku tetap merasa kau ada di sini.
Rasanya kau membawaku damai.
Makanya belakangan ini, saya ingin terus tingkatkan rasa persaudaraan itu.
Memberikan perhatian lebih dari sebelumnya,
meskipun hanya lewat angin dan pesan maya.

Tapi entah dari sisi mana keping tubuhku telah merasa aneh.

Saya merasa kau mulai memberiku isyarat bodoh.
Saya merasa tak mampu jika tak ada timbal balik darimu.

Apa arti semua ini...?

Saat kau mulai memberiku pesan bahwa kau merindukanku,
bahwa kau rindu untuk kuomeli seperti sebelum-sebelumnya.
bahwa kau rindu untuk setiap senyumku yang aneh padamu,
bahwa kau menyayangiku.
Aah... mungkin karena kau adalah saudaraku,
dan itu ungkapan wajar yang kusalah-artikan.
Semoga saja itu hanya salahsatu pikiran konyolku saja,
yang tak baik untuk kamu ketahui.

Tapi semakin cepat jarum jam melaju,

semakin membuatku tertekan dan bergetar.
Tuhan, aku tak bisa memaksakan keadaan seperti ini.
atau ini mungkin semacam tantangan yang harus kulalui.

Dia adalah saudara terbaikku,

dan saya akan terus menjadi yang terbaik untuknya, selama saya bisa.

Saya hanya mau bilang : 

"Terimakasih sudah menjadi saudaraku"
(iya..iyaa.. saudara, tidaklah lebih...) ^_^



DENDAM

OLEH : RIKA RAHAYU

Aku hampa, tadinya.
Sebelum caci
yang menjelma menjadi lumpur penghisap
menarikku menuju dasar pusaran benci yang terlalu dalam.

Kamu tidak jahat, JELAS!
Akulah bangsal kegelapan
yang berpura-pura menjadi malam yang menyejukkan.
Membawamu pergi menelusuri bukit-bukit indah
yang kurakit dari gumpalan dendam.

Ingatkah kali pertama bertemunya kedua bola mata?
Kita bersikeras,
masa itu adalah racikan Tuhan paling sempurna bagi kita.
Dimana kupu-kupu menari disekitaran tubuh kita,
mengerlingkan sorot bahagia dalam pelupuk mata.

MATI SAYANG, RASA ITU TELAH MATI...!!!!!!!!!
Setidaknya aku mengira demikian,
ketika kamu mulai membiarkanku sesat dalam diammu.







Kamis, 19 Juni 2014

SOULMATE


OLEH : RIKA RAHAYU




  Saya tidak percaya konsep soulmate.

Bagi saya, soulmate adalah sesuatu yang abstrak.
Konsep rekaan manusia untuk melariskan dagangan bunga, cokelat, kartu Valentine, fiksi romantis dan apa pun yang menghasilkan duit.

Soulmate, menurut saya, adalah konsep yang konyol, kalau tidak kejam.
Manusia dikotak-kotakkan dan dicemplungkan dalam wadah kedap udara.
Kamu baru lengkap kalau sudah menemukan soulmate-mu.
Bagaimana jika belum? Selamat, kamu akan menghabiskan sisa hidupmu mencari soulmate. Puteri bersepatu kaca atau pangeran berkuda putih, yang akui sajalah, makin sulit ditemukan di rimba bagunan kota saat ini.

Soulmate, baru-baru ini aku pernah mempercayainya.
Tapi tidak hari ini, soulmate hanya membuatku menciptakan mimpi, yang sebenarnya kutahu tidak mungkin.
soulmate hanya mengenalkanku janji ikatan, yang sebenarnya kutahu bahwa itu omong kosong.
soulmate hanya mengajariku cara terbang tanpa sayap, yang kemudian akan menghempaskanku ke tanah dan menyisahkan memar raksasa.
soulmate hanya membuatku malu, curhat hal yang tak penting kepada Tuhan, yang sebenarnya lebih pantas kugunakan untuk curhat tentang parfum terbaruku, team football andalangku atau tentang kucing kesayanganku (saya rasa itu sedikit lebih pantas untuk kucurhatkan dengan Tuhan).

soulmate, soulmate, aaalaaaah...
itu hanya imajinasi yang diciptakan oleh anak-anak ABG yang tak berminat dengan pelajaran sekolah.
aku sudah tak mempercayainya hari ini.






AKU INGIN :

*ada di belantara bintang,
 menjilatinya satu per satu hingga napasku menutupi rinduku.
*menjadi ranting sehelai daun,
 menjaganya agar tak direbut tanah.
*melebur menjadi debu,
 lalu hinggap dan menetap di pori-pori wajahnya.
*menjadikannya mimpi yang terkabul,
 walau hanya semenit.

R.R




Kamu tahu,
untuk sekedar memahamimu saja, aku harus memetik ribuan bunga di taman maya.

Ketika ada hal yang membuatku jatuh,
itu karena memilikimu penuh dengan duri.

Sungguh, aku tak ingin hal lebih darimu,
aku hanya ingin mengambil cinta Tuhan melalui dirimu,
itu saja.

KERAMIK ILUSI


OLEH : RIKA RAHAYU




Pada keramik tanpa nama itu kulihat kembali wajah dan senyuman nakalmu,
yang sering kau sajikan padaku saat itu.
Saat tangan kita menyatu,
tatapanmu mengendap betah pada wajahku yang tersipu.
Matamu terlihat belum tolol,
untuk sesuatu yang masih tersimpan dalam memoryku.

Apa yang berharga pada jelmaan tanah liat ini,
selain sepotong ilusi?
Sesuatu yang pasti,

pasti akan retak.
Dan kita seakan berpura-pura membuatnya abadi.






KISAH YANG TAK USAI

OLEH : RIKA RAHAYU

Inikah akhir lupa yang dikirim angin,

untuk seorang putri pemimpi sepertiku?
Inikah celah nadi itu,
yang sempat dirantau darah kentalku kemarin?
Tidak.
Ini lebih mirip dengan kibasan basah,
yang setiap saat menjanjikanku mimpi mimpi kosong.

Meraung-raung pada sobekan daun.

Menagkap cahaya dengan kedua tangan.
Apapun itu, ingin aku saksikan.
Betapa dia akan memabukkanku dalam hari.
Sebagai sukma yang kosong,
kumasukkan rasa yang tak pernah kutemukan itu.

Aku terlalu bodoh,

berteman hidrasi, kumencari jiwa itu di lain dimensi sana.
Yang ternyata hanya tepat di depan mata.

Dan...


Dia pergi saat diamku mulai mencamuknya.

Dia pergi bersama maafku yang patah.
Dia pergi bersama kisahku yang tak pernah usai itu.




WANITA YANG KUSINGGAHI RAHIMNYA


OLEH : RIKA RAHAYU

Debat kusir.
Kira-kira itu yang akan terjadi jika saya dan kembaran saya yang lahir 19 tahun sebelum saya itu berbicara tentang panti jompo. Kembaran saya alias bunda alias ibu alias mama itu seringkali berpesan: "Kak, kalau mama tua nanti, mama mau masuk panti jompo sama papa juga ya..."

Saat itu saya bergetar bukan kepalang. "Apaa..??? Kenapa panti jompo?"

Kata "Panti Jompo" begitu lekat dengan orang tua ( yang seakan-akan ) telantar.
Anaknya malas mengurus ibu bapak, jadi dititipkan di panti jompo.
Saya juga tidak akan sampai hati melihat wanita yang saya hinggapi rahimnya selama 9 bulan dan lelaki yang memeras keringatnya agar saya mendapat kehidupan layak, hanya teronggok di panti jompo.

Akan tetapi suatu malam menjelang tidur, wanita yang melahirkan saya ke dunia itu berbagi pikiran yang mengusiknya.

"Kak, rumah itu idealnya terdiri dari keluarga inti. Ada bapak, ibu, dan anak. Jadi kalo anak-anak sudah menikah nanti, terus mama sama papa tua, kita mau masuk panti jompo aja"

Melihat saya mengerutkan dahi, mama segera menambahkan,
"Kebanyakan orang berpikir terlalu sibuk untuk membalas jasa orang tua. Mereka lupa, jika orang tua itu begitu bahagia menerima karunia yang disebut anak. Jadi apa yang kami lakukan itu tidak terhitung sebagai jasa, tapi preview surga"

Mama berhasil membuat saya berkaca-kaca saat itu. Lalu dia berkata lagi "Karena adat kita seakan mengasuh orangtua di dalam rumah itu kewajiban anak, padahal kami beraktualisasi sebagai manusia, yaitu bayi, balita, kanak2, remaja, dewasa, tua, lalu mati. Dan setiap fase, kami ingin semua memiliki arti."

"Mama liat umi
( sebutan untuk nenek saya ) dan teman-temannya yang sudah pikun. Matanya jadi kosong, karena masing-masing kegiatannya terhambat karena melakukan hal yang itu-itu saja dirumah. Kalo di panti jompo kan banyak teman. Ada banyak orang tua yang se-frekuensi, berarti kita kan bisa terus bersosialisasi."
Saya sempat mengajukan penawaran, beliau dan papa bisa tinggal di rumah, dan pasti anak-anaknya akan rajin berkunjung. Apa jawabannya?

"setiap orang hidup, apalagi yang waras pasti punya kegiatan. Anggap kalian weekend pasti kerumah, lah hari kan ada 7. Yang 5 hari kita ngapain? Pasangan udah renta, kelamaan berdua doang juga korslet kali kak kalo gak ada kegiatan.
Kalo di panti jompo, kita nggak tergantung siapapun. Jadi tiap hari kita punya kegiatan yang jadinya gak ngerecokin anak-anak. Bisa ikut kelas dansa, menanam, catur, dan lain-lain. Seru kaann?"
Katanya dengan wajah sumringah dan suara riang.

Mama juga menambahkan "Pokoknya gak usah denger kaya orang. Yang penting kita orang tua tau kalo kalian sayang banget sama kita, dan kalian juga harus tau kalau melihat kalian menjadi manusia utuh juga adalah goal kami sebagai pasangan yang dipercaya untuk memelihara kalian".

Dan kami berpelukan ^_^

Tak lama, buru-buru mama melanjutkan kalimatnya
"tapi kak, kita gak usah pusing-pusing mikirin ini dulu sih. Kan itu saat tua.
Hahaha, masih lama yaa.

Kembali kutatap wajahnya.

Masih lama.............

Ya, masih lama. Wanita di hadapanku masih terlalu cantik untuk menuju ke kata "tua". Ukuran celana kami masih sama, jeans masih menjadi pakaian favoritnya. Keriput tidak membuat beliau kehilangan pesona, atau bahkan lipatan-lipatan tidak berani hinggap diwajahnya.

Dia ibuku, wanita yang sangat, sering, dan selalu aku banggakan. Love you mom.....!!!!!

 





Kamis, 12 Juni 2014

MALAMKU YANG HILANG


OLEH : RIKA RAHAYU

Mengira-ngira namamu dalam gulita perabaan dunia.
Hujanan kalimat demi kalimat kau curahkan padaku setiap malam.
Rangkaian kata tentang rindu kau semayamkan dalam setiap ingatanku yang diam.
Ingin,
kuluapkan jawaban serupa padamu saat itu.
Membalas, dengan bisikan gegas kata paling indah, yang malaikatpun tak pernah mendengarnya.

Apa yang tumbuh dalam malam?
Yang hendak membunuhku pada ingatanku tentang pelukanmu.
Hanya,
Pelukan kosong yang tiap malam kugumamkan dalam malam-malam tanpamu.
Resah,
kulumpuhkan kata-kata,
dan kumulai menyurati angin yang berkedip lintas di atas jendelaku.

Tentang, malam yang hendak kurebut kembali.
Hanya sang mata rembulan hadir sebagai pengobat bisu.

Kulukis-lukis senyummu yang penuh rinduku.
Sesekali kau berkedip tanda ada yang kau ambil ricuh dari  hatiku.
Kau katakan berulang,
Tentang resah,
hari kemarin yang ingin merampasku.

Kala para pemuja terlelap.
Adalah diri tak ingin  terkikis habis oleh penantian panjang.
Aku mulai menggigit-gigit mimpiku bersamamu,
Saat malam mulai merebut dengan paksa,
Memenjarakanku di sini, yang tak bisa kulihat sedikitpun bayangmu yang sebelumnya dapat kusentuh.

Aku mulai, mencari-cari malamku yang hilang itu.
Aku mulai, bersujud dalam satu kecupan permohonanku untuk rindu.
Andai,
sang jarak, dan prajurit waktu.
Bisa mengerti keluhku.

Rabu, 11 Juni 2014

KANDA


OLEH : RIKA RAHAYU

Aku disini saksi,
atas segala kecupan yang sempat bersujud di penjuru lapisan kulit kita, kanda.
Bagaimana menolak kau hirup,
mereka saja berhala hanya untuk menatapmu,kanda.

Diam-diam napasmu menggerogoti saraf-saraf,
ruangku gelap, untuk bernapas pun sulit bagiku saat itu, kanda.
Untuk sekedar menerima bibirmu saja kubuka telinga, ada kata yang ingin sampai dari sana,
namun tertahan oleh waktu yang beda, kanda.
Langit masih gagah saja,
merebut ingatanku,
ada kamu pada setiap biliknya, kanda.

Mendengar serbuk yang ternyata melumpuhkan seluruh sel otakmu,
hingga di seluruh penjuru kepalamu hanya ada satu harapku,
yaitu seorang aku, kanda.
Aku ingin,
seluruh kata-kataku malam ini menjelma menjadi wujudmu saja, kanda.
Lipatan lembut katup tatapanmu padaku kuatkan dasar alasan,
sekali lagi ku ingin memujamu, kanda.
Ini tentang aku yang tak pernah tau warna, wujud dan angka tubuhmu di sana, kanda.
Kalau boleh kukatakan,
sesungguhnya ada namamu dalam setiap garis bibirku, kanda.




16.12.13

Selasa, 10 Juni 2014

WAKTU TAK PERNAH MENUNGGUIMU

OLEH: RIKA RAHAYU

   
   Tidak terlalu sendiri, aku bersyukur memiliki teman yang sangat setia menemani sejak dua tahun lalu.
Bahkan saat aku meninggalkan kesadaran, dia tetap ada.
Bayangkan, dimana lagi bisa menemukan teman yang begitu setia di sisimu bahkan saat   makeup-mu luntur karena menangis?....*

Mari kuperkenalkan pada kalian, namanya : WAKTU

"Kamu ingin melewatkan malam ini dengan mata terbuka lagi?" dia membuka percakapan.

"Ah, aku cuma ingin bertemu hujan" jawabku sambil menghembuskan udara tuli yang kebetulan lewat di depan bibirku.

"Alasan" jawabnya dengan tawa ketus,
"kamu hanya ingin menabung air mata dengan sikap kekasihmu yang tak ingin kau tau, dan kemudian pikiranmu akan kau paksa untuk bersedih" tambahnya.

"Apaan sih? Dasar ga jelas!" balasku tak kalah ketus sambil melempar pandang pada kaca besar yang menembus langit gelap dan tak punya bayangan bintang.
Samar-samar dari pantulannya aku lihat, kantung mataku hampir menyerupai milik pemimpin negara yang terus tertimpa bencana lalu dihardik rakyat.

"Sudahlah,dia tidak akan merubahnya" katanya lagi mengganggu diamku.

"Aku tahu"

"Lalu?"

"LALUuuuu....??? Daripada kamu banyak bertanya, lebih baik kau bantu aku!" (akhirnya emosiku naik juga.)

"Bantu bagaimana?" tanyanya bingung.

"Gimana sih? kamu kan waktu, harusnya kamu bisa dong bantu aku sejenak melupa. Kamu pikir aku seneng apa kaya gini terus? Menangis setiap malam sambil mendekap pigura, sedangkan orang di dalam foto ini mungkin sedang asik bercinta dengan wanita yang mungkin bukan kekasihnya?!?" >_<
kutembaki dia dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah aku kandung selama ini.
Seperti melahirkan prematur rasanya, karena semua seperti tidak cukup.
Tabung di dadaku ini masih terlalu berat untuk diroketkan.

Dia hanya diam, melihatku dengan pandangan kosong, mataku yang dihiasi air mata yang tidak lagi dia indahkan.
Kulihat dia bergerak, dan aku mulai panik.

"Mau kemana?!?"

"Aku harus pergi dong, kamu pikir aku akan di sini selamanya menemanimu basah?
Bukankah kamu tahu, bahwa aku tidaklah pernah mau menunggu, kamu mau aku disini sampai kapan? sampai matamu menjadi keriput karena orang yang kau banggakan itu? sampai matamu membengkak karena seorang pria, yang tak pernah memberimu sebuah perhatian, dan sibuk dengan kisahnya bersama wanita yang tidak kamu tau, itu maumu....!!!!???"

Dalam diam panjangku....
Ku biarkan WAKTU itu pergi dan berlalu..



Sabtu, 07 Juni 2014

SURAT CINTA UNTUK TUHAN


OLEH:RIKA RAHAYU





   Malam kali ini sunyi, seperti tak seorangpun yang mengenal jalanan malam. Tiang listrik dan lampu jalanan hanya sebagai patung yang selalu diselingkuhi tiupan angin, gerimis pun tak pernah ketinggalan untuk menyempurnakan suasana yang amat memilukan untuk sebagian orang.

Udara diam menjadi sahabatku malam ini, meluapkan semua pertanyan dan makian, sesekali aku menyapunya dengan tangan agar embun tak membuatnya buta untuk malam, aku seperti para tawanan kerajaan yang tak punya jalan keluar, bersembunyi di sebuah ruang waktu yang pengap dan tak seorang pun boleh mengetahuinya, perasaan bersalah dan egoku bersaing entah sampai titik yang ke-berapa.

   Aku masih seorang mahasiswi, semua orang mengenalku sebagai wanita yang aktif, ramah, peduli, penyayang, dan smart, itu yang biasa orang katakan tentangku. Sekilas itu semua akan membuatku tertawa untuk penilaian yang kuanggap terlalu hebat dan berlebihan itu, tiap kali telingaku menerimanya lagi dan lagi.

Ini berawal saat kesibukanku yang ternyata membuatku mengenal seorang pria.
Pria yang menurutku begitu sempurna jika harus kumiliki selamanya, memberiku cinta dan kasihsayang yang sangat luarbiasa, mengajariku, dan membuatku sebagai wanita yang sebenarnya. Entah bagaimana tiap bersamanya selalu saja aku bisa berpikir sejernih malaikat, tugas apapun bisa aku kerjakan dengan sangat mudah,bahkan tugas kuliah yang kerap membuatku menangis dan memukuli tembok karena sulit kupahami, dalam beberapa menit bisa kuselesaikan dengan tepat, entah dia Tuhan darimana yang bisa membuat hidupku berguna seperti ini.

   Iya, dia pacarku, aku mengenalnya 2 bulan yang lalu, kami berkenalan di sebuah acara kampus dan dia adalah salahsatu teman dosen kesayanganku, yang menyeret kami harus mengakhiri acara tersebut dengan sebuah perkenalan.

Saat ini umurku 21 tahun,dan dia 29 tahun. Pertemuan demi pertemuan membuatku mulai menyukainya, aku belajar banyak hal darinya, lebih tepatnya aku mencintai semua yang Tuhan ciptakan lewat dirinya (saat sosok itu masih kumiliki).
Genggaman tangan dari seorang yang selama ini kupuja itu akan membuatku merasa aman dari apapun, tapi aku tahu persis bagaimana dunia ini menciptakan kisah antara kami, dipertemukan dengan sangat mudah dan diakhiri dengan seribu pedih.
Seorang yang membuatku mengenal arti simpanan.
Aku mungkin akan muntah saat mendengar kata itu, aku membenci kata itu  sejak kecil, kata yang membuat ayahku meninggalkan Ibuku yang paling kusayang, yang akhirnya berakhir di rumah sakit jiwa bertahun lamanya, dan kemudian menghembuskan napas terakhirnya.                                                                                                                       
Bagiku, entah itu adalah sebuah pekerjaan, sebuah luapan cinta dan waktu adalah perampas tersadis untuknya, atau memang hanya sebagai ajang kesenangan untuk para pria ber'uang. Untuk yang pertama kalinya aku sulit bernapas, aku sulit mengakui satu kalimat yang aku sendiri sangat membencinya. “Iya, aku adalah simpanan dari seorang pria yang sangat kusayangi itu”.
Dia orang pertama yang membuatku percaya keajaiban.
Suatu hari saya pernah menertawainya dalam foto yang kuambil diam-diam dari facebooknya. Aku pernah berpikir pria sepertinya tidak mungkin akan membuatku jatuh cinta setelah selama ini, ribuan pria yang berwajah 1000x lipat jauh lebih indah darinya, dan kemudian aku tolak dengan ketus. Kendati seluruh sendi tubuhku dan setiap sel otakku akan membantah konsep cinta ini.
Tapi siapa yang menduga saya memang sangat jatuh cinta kepadanya. Barangkali sebabnya sederhana saja, dia punya perhatian yang tiada duanya di dunia. Jendela surga yang lewatnya kau bisa mengintip sekilas asa dan cinta, tawa dan angkara, dan tak ada yang lebih indah dari perhatian yang akan menyulapmu menjadi seorang Ratu. Hari dimana aku merasa paling rendah dan dia orang pertama yang tersenyum dan bertepuk tangan mengatakan padaku bahwa  aku adalah wanita terhebat.

   Aku menjalani hubungan yang semua orang menganggapnya sebagai dosa, ini sulit yang harus kutempuh, tapi aku harus bagaimana lagi, aku bahkan tak punya cara bahagia lagi selain berada di dekatnya, menemaninya bercerita, memberinya kasih-sayang yang tak dia dapatkan dari istrinya.

Aku bahkan tak peduli dia akan bercerita dengan kelelahan di wajahnya, kadang dengan senyuman, tentang pekerjaannya, tentang anaknya yang mulai menyesuaikan diri di sekolahnya yang baru dan kadang, tentang istrinya.
Aku akan mendengarkan dengan antusias. Cerita-ceritanya selalu menarik, dan yang terpenting bagiku, dia membaginya denganku.

Awalnya memang sulit untukku, saat hubungan kami berjalan dengan sangat indah dan dia harus jujur untuk status yang mengikatnya. Aku berakhir dengan diam membenci waktu, waktu yang tak pernah bisa melihatku berjodoh dengannya, aku menelan ludah yang terasa getir, aku terlalu egois, tapi aku mencintainya.

Aku mencintai suami seorang wanita yang samasekali tak aku kenal, yang samasekali tak punya dosa sedikitpun kepadaku.

Aku membenci malam saat dinginnya memakiku yang membuatku menangis, menangis dan menangis. Aku tahu bagaimana sakit yang wanita itu rasakan saat dia tahu tentangku nantinya. Aku tahu bagaimana air matanya nanti tak akan sengaja membasahi pakaian-pakaian mewahnya, saat menunggu keluarga kecilnya di meja makan untuk bersama seperti biasa, dan kenyataannya saat itu aku sedang bersama suaminya, bercanda ria membaca novel kesayangan kami, sambil menyuapi satusama lain, saling mecubit pipi, mengenakan pakaian yang sama dan saling membagi hangatnya malam.

Ini membuat semua isi otakku nyaris tumpah, aku sungguh takut mengadu kepada Tuhan, akankah dia akan mencabut nyawaku dengan sia-sia karena dosa yang terlalu berat yang sedang kujalani ini, tapi di satu sisi, aku bahkan sedang menjalani satu kewajibanku untuk mencintai seorang pria dalam hidupku.

Aku berjalan seperti tak punya kaki, melihat tak punya mata, meraba tak punya tangan. Aku hanya punya ego yang terbang bebas dalam setiap pikiranku yang bagaimana mungkin bisa untuk kujalani hingga tua.

Tuhan memberiku cobaan yang terlalu berat setelah apa yang selama ini aku dapatkan dengan mudah.
Cinta bukan cuma tak kenal logika, tanpa segan dibuatnya aku akan gila.

   Hal terakhir yang membuatku hampir membenci diriku sendiri adalah saat dimana dia berbohong kepada wanita itu, wanita yang sah sebagai istrinya demi menemaniku dan membuatku senang hari itu.

Aku memintanya untuk menemaniku seharian penuh karena kondisi tubuhku sedang tak membaik, urusan kantornya pun ia abaikan begitu saja, dan panggilan dari ponselnya membuatnya harus berhenti sejenak menggelitikku dengan ocehan-ocehan lucunya yang ingin selalu melihat senyumku.
Sesuatu dalam jantungku mencelat seperti ingin jatuh, saat dia mengatakan dengan lembut  “Aku masih meeting. Tidurlah. Besok aku pulang,” demikian ucapnya selalu. Dia akhiri dengan satu kalimat yang memang menjadi jatahnya.
Aku mulai mengerutkan keningku, seratus persen sadar bahwa jantungku barusaja mendengar sebuah khianat, jelas ini rumahku, bukan kantor. Kali ini, aku benar-benar merasa wanita terbodoh yang telah berbahagia di atas penderitaan seorang wanita yang tak berdosa kepadaku.

Aku telah membuat seorang pria lupa tentang kewajibannya kepada istri. Aku telah membuat seorang pria membagi cintanya untuk seorang aku yang tak punya apa-apa untuk dia banggakan kepada keluarga ningratnya.

Aku tak paham kenapa seseorang yang begitu sederhana sepertiku bisa punya daya yang begitu besar untuk mengacak surga kecil seorang ningrat ini, tempat segala sesuatu berjalan teratur, tertata, terencana itu.

   Aku masih berdebar-debar saat dia mulai menutup perbincangannya itu, Sekilas aku mulai berlagak tak peduli dengan itu, yang terpenting beberapa jam berikutnya, dia menjadi milikku sepenuhnya. Selama itu pula, cuma aku yang ada di pikirannya, bukan pekerjaannya, bukan anaknya, bukan wanita itu. Cuma namaku yang akan dia sebut. Beberapa jam yang rela kutukar dengan menyebut namanya setiap hari sebelum tidur, sambil memandangi foto kami dan memeluknya dalam malam.

Aku pernah mengeluh kepadanya, meminta untuk mengajariku cara membencinya agar tak ada perasaan terlarang seperti ini, tanpa kata dia kemudian merangkulku dengan cepat dan sangat erat, lidahnya mulai kelu, susah payah diaturnya napas supaya gugupnya tak terlalu kentara padaku.
Kemudian kalimatnya mulai datang membisik di telinga kananku.“Sayang, jangan mengatakan hal seperti itu lagi kepadaku, kau tahu? Aku mungkin akan sangat gila saat kehilangan kamu dalam hidupku, ini adalah kesalahan terberatku, yang begitu saja meng’iyakan kehendak orang-tua untuk menikahkanku dengan gadis pilihannya. Jika saja kamu datang lebih awal darinya, jika saja datangmu bersamaan dengannya, sudah pasti saya akan memilihmu tak beralasan lagi.” dan semakin erat, pelukan itu nyaris membuatku sesak, tapi aku tahu itu adalah ungkapan perasaan terdalamnya untukku.

   Malam ini saat kubuka ingatan-ingatan itu, aku sungguh ingin benar-benar mengusap air mataku.

“Tuhan mungkin ini kesalahan terberatku di dunia, Tuhan, salahkah aku yang ingin punya pria yang benar-benar bisa kuceritakan dengan bangga kepada dunia. Saya sungguh tak menginginkan kisah terselubung seperti ini. Tuhan, aku ingin menulis ribuan lembar surat cinta untukmu sebab aku malu menemuimu.”

Aku sudah tak peduli bahwa apa yang akan dijatahkan untukku, berkah atau kutuk, bahagia atau sengsara, senang atau malang. Meski ganjarannya tak mudah, setiap pertemuanku dengannya butuh upaya ekstra keras untuk meredakan degup jantung dan menyembunyikan semburat salah dan dosaku pada istrinya. Biarpun dadaku begitu sesak menahan ngilu setiap kali mata kami bertemu, menyalahkan waktu.


Ini hari ke 7 saat aku meninggalkannya tanpa setitik jejak.

Aku mungkin akan dan harus belajar mengabaikan egoku, demi melihatnya bahagia bersama keluarga kecilnya. Cinta kami bukan untuk diumumkan.
Cinta kami terlalu sederhana sekaligus terlalu megah untuk jadi kenyataan, kendati yang diperlukan cuma sebaris pengulangan waktu.
Kabar terakhir yang sempat kudengar tentangnya, dia sedang dirawat di sebuah rumah sakit kepercayaan keluarga nigratnya, menyebut namaku dalam tidurnya.

Dan aku harus belajar tak peduli.


R.R

07.02.14