Jumat, 11 Juli 2014

INI ADALAH RIWAYATKU

OLEH : RIKA RAHAYU




Tentang Hal Yang Harus Kau Ketahui.

Saat awal kita bertemu dan kemudian disusul pertemuan-pertemuan berikutnya,

saya mempelajari sikapmu,
saat itu saya tahu bahwa kamu adalah orang baik.
Makanya, saya berniat menjadikanmu orang teristimewa di antara sahabat-sahabatku.
Dan akhirnya kuanggap kau sebagai saudaraku.

Kuberikan perhatian lebihku,

Kurelakan dan kukorbankan waktu pentingku untuk membalas setiap pesanmu,
mendengar semua curahan hatimu,
dan kemudian berusaha memberikanmu solusi yang menurutku baik,
hal yang jarang bahkan tak pernah kulakukan untuk sahabat-sahabatku yang lain.
Dan itu semua untuk membuatmu merasa nyaman denganku,
membuatmu merasa percaya padaku.

Dari keakraban dan kebersamaan itulah,

entah kenapa selalu saja tercipta rindu,
untuk sosok yang kuanggap saudara,
bahkan lebih dari saudara kandungku sendiri.

Belakangan ini, saya selalu saja senyum sendiri menatap fotomu di handphoneku,

Entah hal lucu apa yang ada di rautmu saat itu.
Parahnya lagi,
saya selalu saja berbicara dengan gambar itu seolah kau ada.

Setelah jarak memaksa kita untuk mengurangi jumlah pertemuan kita.

Aku tetap merasa kau ada di sini.
Rasanya kau membawaku damai.
Makanya belakangan ini, saya ingin terus tingkatkan rasa persaudaraan itu.
Memberikan perhatian lebih dari sebelumnya,
meskipun hanya lewat angin dan pesan maya.

Tapi entah dari sisi mana keping tubuhku telah merasa aneh.

Saya merasa kau mulai memberiku isyarat bodoh.
Saya merasa tak mampu jika tak ada timbal balik darimu.

Apa arti semua ini...?

Saat kau mulai memberiku pesan bahwa kau merindukanku,
bahwa kau rindu untuk kuomeli seperti sebelum-sebelumnya.
bahwa kau rindu untuk setiap senyumku yang aneh padamu,
bahwa kau menyayangiku.
Aah... mungkin karena kau adalah saudaraku,
dan itu ungkapan wajar yang kusalah-artikan.
Semoga saja itu hanya salahsatu pikiran konyolku saja,
yang tak baik untuk kamu ketahui.

Tapi semakin cepat jarum jam melaju,

semakin membuatku tertekan dan bergetar.
Tuhan, aku tak bisa memaksakan keadaan seperti ini.
atau ini mungkin semacam tantangan yang harus kulalui.

Dia adalah saudara terbaikku,

dan saya akan terus menjadi yang terbaik untuknya, selama saya bisa.

Saya hanya mau bilang : 

"Terimakasih sudah menjadi saudaraku"
(iya..iyaa.. saudara, tidaklah lebih...) ^_^



Tidak ada komentar:

Posting Komentar