Kamis, 07 Agustus 2014

Narasi Persaudaraan Di Atas Permukaan Air

OLEH : RIKA RAHAYU



Angin mendesau berbisik.
Menyindir para ombak yang berlarian mematuk.
Menyerbu kami

yang datang di rumah para nelayan tua ini.


Kami,
kami hari ini di sini,
mengusap ombak-ombak kecil
yang berhasil memberi basahan di ujung jari kami.
Menyentuh garis-garis air di pelukan perahu lapuk yang kami pijak.
Garis-garis air
yang memberi kami tawa kecil,
yang sesungguhnya berperasaan gaduh.

Wahai ombak...
Kami di sini mengaku saudara.
Kami di sini mengaku kokoh.
Kami di sini berpaku dalam kasih dan sayang.

Tapi,
Kami di sini terawasi waktu,
Waktu yang selalu ingin merebut kebersamaan abadi kami.
Tumpangan karpetmu begitu empuk di hati
untuk sejenak kami tempati bertamu.

Esok kami harus saling menciumi kening satu dengan yang lain.
Kami harus berpeluk erat
sebelum waktu benar-benar mengutuk pisah di antara kami.

Esok kami harus pergi lagi
Pergi untuk sebuah cita-cita
Cita-cita yang masih terkubur dalam
di perut perairan luas sana.

Terimalah teriakan lepas kami di permukaanmu ini,
sebagai ucapan Terimakasih atas Narasi Persaudaraan Kami.

R.R
02.08.14

Tidak ada komentar:

Posting Komentar